Bisnis Penyimpanan Energi, Incaran Pertamina, Tesla, sampai Samsung

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengisiian Listrik pada mobil listrik dalam peluncuran Green Energy Station (GES) oleh PT Pertamina di Jakarta, 10 Desember 2018. Kedepan GES diproyeksikan akan menjadi tempat untuk pengisian baterai EV serta tempat untuk swapping baterai yang didedikasikan untuk sepeda motor listrik kecil. Tempo/Amston Probel

    Pengisiian Listrik pada mobil listrik dalam peluncuran Green Energy Station (GES) oleh PT Pertamina di Jakarta, 10 Desember 2018. Kedepan GES diproyeksikan akan menjadi tempat untuk pengisian baterai EV serta tempat untuk swapping baterai yang didedikasikan untuk sepeda motor listrik kecil. Tempo/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Bisnis penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS) kini menjadi incaran sejumlah perusahaan dunia, di antaranya yaitu PT Pertamina (Persero) dan produsen mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla. Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan peluang pengembangan ESS ini cukup besar di Indonesia.

    "ESS ini pasar yang besar. Sehingga di masa depan, Pertamina pun akan masuk ke sana,” kata Nicke dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu, 13 Februari 2021.

    Baca Juga: PLN Tebar Diskon 30 Persen untuk Pengguna Kendaraan Listrik

    Salah satunya karena terdapak potensi untuk menjaga kehandalan suplai dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Ini sejalan dengan bisnis Pertamina yang kini juga sedang mengembangkan PLTS di sejumlah kilang mereka.

    Saat ini, kata Nicke, Pertamina telah membangunnya di Kilang Badak, Bontang, Kalimantan Timur. Kapasitas PLTS di sana mencapai 4 Mega Watt (MW).

    Kemudian, beberapa konstruksi PLTS juga sedang berjalan di beberapa area kilang lainnya seperti di Dumai, Riau; Cilacap, Jawa Tengah; serta Sei Mangkei, Sumatera Utara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.