OJK Prediksi Pertumbuhan Kredit Hanya 5 Persen pada 2021 Jika Vaksinasi Lambat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengerajin tengah menyelesaikan pembuatan tas kulit bermotif pulau pulau  di Indonesia di bengkel kerja Janji Pertiwi, Jakarta, Selasa 3 November 2020. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, realisasi kebijakan restrukturisasi kredit perbankan per 7 September 2020, mencapai Rp 884,5 triliun dari total 7,38 juta debitur,menyebutkan keringanan kredit itu dinikmati sebanyak 5,82 juta pelaku UMKM dengan nilai Rp 360,6 triliun. Tempo/Tony Hartawan

    Pengerajin tengah menyelesaikan pembuatan tas kulit bermotif pulau pulau di Indonesia di bengkel kerja Janji Pertiwi, Jakarta, Selasa 3 November 2020. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, realisasi kebijakan restrukturisasi kredit perbankan per 7 September 2020, mencapai Rp 884,5 triliun dari total 7,38 juta debitur,menyebutkan keringanan kredit itu dinikmati sebanyak 5,82 juta pelaku UMKM dengan nilai Rp 360,6 triliun. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Heru Kristiana mengatakan permintaan kredit akan lesu jika vaksinasi berjalan lambat dan pandemi Covid-19 berlanjut tanpa bisa dikendalikan perkembangannya.

    "Barangkali itu akan terkoreksi menjadi 5 persen," kata Heru dalam diskusi virtual yang disiarkan CNBC Indonesia, Kamis, 11 Februari 2021.

    Namun, jika pemulihan ekonomi terjadi lebih cepat di triwulan I 2021, kemudian permintaan kredit mulai tumbuh serta kebijakan pelonggaran likuiditas itu tetap seperti sekarang, dia optimistis pertumbuhan kredit bisa 7 persen, bahkan sampai 9 persen.

    "Kalau vaksinasi berjalan efektif dan roda perekonomian beranjak pada semester II 2021, saya optimistis bahwa pertumbuhan kredit bisa sampai 7 persen," ujarnya.

    Optimisme itu, kata dia, ditambah dengan adanya upaya dari pemerintah untuk terus berupaya menumbuhkan demand atau permintaan masyarakat.

    Menurut dia, OJK terus mendorong perbankan menerapkan digitalisasi agar penyaluran kredit lebih dapat dijangkau masyarakat. "Saya juga sampaikan bagaimana OJK mendukung agar perbankan tumbuh di 2021. Kami dukung digitalisasi, serta aturan terkait OJK terus kami respons," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.