Bos Garuda Beberkan Asal Kerugian USD 30 Juta Akibat Operasional Bombardier

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi perawatan pesawat Garuda Indonesia jenis bombardier di Hanggar 4 GMF, kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa, 2 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Kondisi perawatan pesawat Garuda Indonesia jenis bombardier di Hanggar 4 GMF, kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa, 2 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menjelaskan asal-muasal perusahaan merugi hingga US$ 30 juta per tahun untuk mengoperasikan pesawat Bombardier CRJ 1000. Kerugian itu setara dengan Rp 420 miliar (asumsi kurs Rp 14 ribu per dolar AS).

    “Untuk uang sewanya saja US$ 27 juta. Lalu kita mengoperasikan, pendapatan dari mengoperasikan lebih rendah dari ongkos mengoperasikan. Jadi malah rugi US$ 30 juta,” ujar Irfan saat dihubungi Tempo pada Kamis, 11 Februari 2021.

    Irfan mengatakan kerugian dari sisi operasi didorong oleh pelbagai faktor. Misalnya penggunaan pesawat yang tidak efektif karena tidak sesuai dengan karakteristik penumpang Indonesia. Kerugian dirasakan sejak perusahaan pertama kali mengoperasikan pesawat itu delapan tahun lalu.

    Garuda pun kini tengah menyelesaikan kontrak dini sewa pesawat dengan lessor, Nordic Aviation Capital (NAC). Namun negosiasi itu masih alot karena lessor meminta nilai penalti yang dianggap Irfan tidak masuk akal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Alasan Batch CTMAV547 Vaksin AstraZeneca Dihentikan Pemerintah

    Pemerintah menghentikan penggunaan vaksin Astra Zeneca dengan batch CTMAV547 karena dua alasan. Padahal vaksin ini sempat didistribusikan secara luas.