Moeldoko: Pertumbuhan Luas Kebun Sawit Bagai Dua Sisi Mata Pisau

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko memberikan keterangan pers di kediamannya kawasan Menteng, Jakarta, Rabu, 3 Februari 2021. AHY menyebut kudeta kepemimpinan Partai Demokrat demi kepentingan Moeldoko sebagai calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko memberikan keterangan pers di kediamannya kawasan Menteng, Jakarta, Rabu, 3 Februari 2021. AHY menyebut kudeta kepemimpinan Partai Demokrat demi kepentingan Moeldoko sebagai calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menyebut pertumbuhan luas kebun sawit di Indonesia memang menjadi dilema. Dilema terjadi antara dampaknya terhadap kesejahteraan petani dan lingkungan hidup.

    "Bagaikan dua sisi mata pisau," kata Moeldoko dalam webinar nasional penguatan kebijakan pengelolaan sawit pada Rabu, 10 Februari 2021.

    Hingga 2020, kata Moeldoko, jumlah perkebunan sawit di Indonesia sudah mencapai 22,1 juta hektare. "Merambah hampir seluruh provinsi di Indonesia, Aceh sampai Papua, ini cukup luas," kata dia.

    Di satu sisi, pemerintah memahami sektor ini membawa dampak baik bagi ekonomi dan kesejahteraan petani. Tapi di sisi lain, sektor yang menyerap 16,2 juta tenaga kerja ini berdampak negatif pada keanekaragaman hayati hutan, beserta flora fauna di dalamnya.

    "Saya tidak katakan negatif sekali, ndak, tapi ada dampak negatifnya," kata Moeldoko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.