PSBB, Tingkat Okupansi Mal di Jakarta Capai 87 Persen Sepanjang 2020

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai menggunakan masker dan pelindung wajah saat menata barang jualan pada salah satu tenant di Metropolitan Mall, Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 11 Juni 2020. Sejumlah mall di Bekasi mulai beroperasi secara bertahap sejak (8/6) lalu dengan menerapkan protokol kesehatan, menjaga jarak, menggunakan masker, dan pengecekan suhu tubuh. Sejumlah mall di Bekasi beroperasi mulai pukul 11.00 WIB hingga 20.00 WIB. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Pegawai menggunakan masker dan pelindung wajah saat menata barang jualan pada salah satu tenant di Metropolitan Mall, Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 11 Juni 2020. Sejumlah mall di Bekasi mulai beroperasi secara bertahap sejak (8/6) lalu dengan menerapkan protokol kesehatan, menjaga jarak, menggunakan masker, dan pengecekan suhu tubuh. Sejumlah mall di Bekasi beroperasi mulai pukul 11.00 WIB hingga 20.00 WIB. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat tingkat keterisian atau okupansi pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta sepanjang 2020 mencapai 87 persen, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 90 persen.

    "Tingkat hunian turun dari tahun sebelumnya, tapi berada di angka 87 persen," kata Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim dalam paparan pasar properti Jakarta secara daring, Rabu, 10 Februari 2021.

    Yunus menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena ada kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB pada 2020 untuk mencegah penularan Covid-19.

    Pusat perbelanjaan sempat ditutup saat kebijakan PSBB. Mal baru diizinkan beroperasi kembali pada Juni secara terbatas baik kapasitas maupun jam operasional."Ini menyebabkan tenant (penyewa) menutup sementara atau permanen. Kita lihat 2020 ini tahun yang menantang bagi tenant," katanya.

    Baca Juga: Keluhan Mal di Solo Selama PPKM: Pengunjung Berkurang dan Tenant Tutup

    JLL mencatat ada penurunan sewa tenant sebesar 1,2 persen sepanjang 2020. Penurunan juga terjadi dari permintaan pasar terhadap bangunan mal sebesar 34 ribu meter persegi. Kendati demikian, ada tambahan pasokan baru seluas 25,4 ribu meter persegi tahun lalu.

    Yunus menuturkan meski 2020 menjadi tahun yang berat, pusat perbelanjaan masih dianggap sebagai tempat hiburan dan bagian dari gaya hidup sehingga performanya masih cukup positif di tengah pandemi.

    "Meskipun ada beberapa penutupan, kami juga tetap melihat pembukaan gerai baru di pusat perbelanjaan menengah ke atas," katanya.

    Ia memprediksi sejumlah sektor seperti makanan dan minuman, kecantikan dan fast fashion masih akan cukup aktif di tahun 2021. Namun, wahana permainan anak hingga bioskop yang jadi daya tarik utama mal masih perlu menunggu waktu untuk bisa kembali menarik pengunjung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.