Garuda Evaluasi Kontrak Sewa Pesawat Bombardier

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi perawatan pesawat Garuda Indonesia jenis bombardier di Hanggar 4 GMF, kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa, 2 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Kondisi perawatan pesawat Garuda Indonesia jenis bombardier di Hanggar 4 GMF, kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa, 2 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tengah mengevaluasi kontrak sewa 12 pesawat Bombardier CRJ 1000 dari total 18 pesawat yang ada. Keputusan pengembalian pesawat atau early termination ditandai dengan pemberhentian operasi 12 armada Bombardier sejak 1 Februari 2021.

    Komisaris Utama Garuda Indonesia Triawan Munaf masih enggan menggamblangkan rencana perusahaan. Namun ia mengatakan keputusan atas kebijakan evaluasi sewa pesawat akan disampaikan secara resmi oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

    “Dalam waktu dekat tentang hal ini akan ada keterangan dari Menteri BUMN,” tutur Triawan kepada Tempo, Selasa, 9 Februari 2021.

    Garuda melakukan pengadaan pesawat Bombardier CRJ 1000 sejak 2012 hingga 2015 secara bertahap. Pesawat ini melayani rute pendek di Indonesia Timur pada awal pengoperasiannya. Pada 2013, perusahaan membuka rute baru yang melayani penerbangan dengan Bombardier untuk rute Makassar-Lombok, Surabaya-Semarang, dan Tarakan-Balikpapan.

    Berdasarkan berkas informasi yang diperoleh Tempo, Garuda berencana menyetop 12 pesawat Bombardier  karena alasan beban keuangan dan mencegah kerugian yang lebih besar. Manajemen pun kini tengah memperbaiki struktur keuangan perusahaan.

    Rencana itu pernah disinggung  Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra pertengahan tahun lalu. Ia mengatakan akan mengembalikan Bombardier dan ATR 72-600 ke lessor. “Permintaan dari komisaris dan pemegang saham untuk segera mungkin mengembalikannya,” kata Irfan dalam rapat bersama DPR.

    Irfan menyebut ada dua jenis pesawat yang saat ini tak cocok dengan karakteristik penumpang Indonesia, yaitu lantaran bagasinya kecil. Padahal, penumpang Indonesia cenderung memiliki karakter membawa barang dalam jumlah banyak. Di samping itu, tarif parkir dan perawatan Bombardier mencapai US$ 50 juta.

    Pada awal pandemi, Garuda sejatinya telah menyetop seluruh armada Bombardiernya. Namun setelah penumpang mulai mengalami peningkatan khususnya menjelang akhir tahun, perusahaan kembali menerbangkan beberapa unit Bombardier untuk melayani Makassar-Manokwari-Sorong dan Tarakan-Makassar.

    Adapun menurut kerja samanya, 18 armada Bombardier CRJ 1000 kini disewa dengan dua skema yang berbeda. Sebanyak 12 armada disewa menggunakan skema operating lease dari lessor Nordic Aviation Capital dengan masa sewa hingga 2027. Sedangkan enam armada lainnya menggunakan skema financial lease dengan penyedia financial lease Export Development Canada. Masa sewa pesawat milik Garuda itu sampai 2024.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | YOHANES PASKALIS | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.