EBT Jauh dari Target, Legislator Akan Bahas Regulasi Dorong Pemanfaatan Energi

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani memperbaiki baling-baling tenaga angin menjelang musim garap garam di Desa Bunder, Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur, 2 November 2020. Pemerintah kemudian meluncurkan program Sentra Garam Rakyat (SEGAR). Pembangunan lumbung garam nasional berbasis sentra garam rakyat itu sejatinya merupakan implementasi dari Peraturan Presiden atau Perpres Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia. ANTARA FOTO/SAIFUL BAHRI

    Petani memperbaiki baling-baling tenaga angin menjelang musim garap garam di Desa Bunder, Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur, 2 November 2020. Pemerintah kemudian meluncurkan program Sentra Garam Rakyat (SEGAR). Pembangunan lumbung garam nasional berbasis sentra garam rakyat itu sejatinya merupakan implementasi dari Peraturan Presiden atau Perpres Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia. ANTARA FOTO/SAIFUL BAHRI

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT agar target bauran energi tercapai.

    “Kita harus dorong EBT dari kebijakan energi nasional yang sudah ditargetkan pemerintah tahun 2025 sebanyak 23 persen. Namun di sisi lain pada kenyataannya kontribusi EBT pada tahun 2021 baru mencapai 11 persen. Masih jauh dari target,” kata Mulyanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu, 8 Februari 2021.

    Legislator tersebut mendorong agar sumber utama energi bahan bakar diperbaharui menjadi EBT, yakni bauran energi yang tidak akan habis dan bersih.

    Menurut dia, saat ini pemanfaatan energi batu bara yang digunakan sudah hampir 70 persen lebih. Jika cadangan batu bara terus-menerus ditambang, maka akan habis.

    Selain itu, biaya yang akan dikeluarkan akan menjadi mahal jika harus mengimpor BBM untuk kebutuhan dalam negeri.“Menurut saya, kondisi seperti ini tidak boleh bertahan lama. Indonesia nanti akan kehabisan sumber energi yang menyebabkan kekurangan energi,” ujar Mulyanto.

    Demi mencapai target yang diinginkan, ada sejumlah masalah yang dihadapi pemangku kepentingan terkait, seperti perlu adanya insentif untuk pengembangan EBT, kelembagaan yang belum kuat, serta teknologi yang masih lemah.“Saya akan membahasnya dengan sebuah regulasi apa saja, kira-kira hal yang kita bisa bantu agar target pemerintah bisa tercapai,” kata dia.

    Sebelumnya Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta jajaran-nya dan seluruh pihak terkait untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT), seperti tenaga surya, angin, sampah biomassa dan hidroelektrik, yang ada di dalam negeri.

    Posisi geografis Indonesia, yang berada di garis khatulistiwa, memiliki potensi sumber tenaga surya yang berlimpah, kata Ma'ruf. Namun, penggunaan energi surya tersebut belum banyak dimanfaatkan di sektor industri dan perumahan.

    Untuk dapat mengoptimalkan potensi EBT tersebut, Ma'ruf Amin mengatakan Indonesia dapat belajar dari negara-negara di Eropa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?