Banjir di Semarang Diduga Akibat Hujan Ekstrem Siklus 50 Tahunan, Apa Kata BMKG?

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel Tim Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kementerian PUPR Jawa Tengah memotret jalan yang terendam banjir di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 6 Februari 2021. Sejumlah jalan di kawasan cagar budaya dengan julukan

    Personel Tim Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kementerian PUPR Jawa Tengah memotret jalan yang terendam banjir di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 6 Februari 2021. Sejumlah jalan di kawasan cagar budaya dengan julukan "Little Netherland" yang dibangun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda sekitar abad ke-18 itu terendam banjir dengan ketinggian bervariasi antara sekitar 20- 60 cm akibat curah hujan tinggi sejak Jumat malam. ANTARA FOTO/Aji Styawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Siklus hujan ekstrem 50 tahunan disinyalir sebagai pemicu banjir di Semarang, Jawa Tengah. Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan periode ulang 50 tahunan dari hujan ekstrem memiliki arti ekstremitas dari suatu kejadian hujan ekstrem.

    "Ekstremitas kejadian ekstrem, bisa apa saja misal hujan, angin, suhu, debit sungai, umumnya ditunjukkan oleh dua parameter, yaitu besarannya (magnitudo) dan kejarangannya (periode)," ujar Siswanto kepada Tempo, Ahad, 7 Februari 2021.

    Dalam dunia hidrometeorologi, kata Siswanto, banjir-banjir besar umumnya terkait dengan hujan ekstrem. Misalnya saja hujan ekstrem penyebab banjir Semarang diketahui terukur di Stasiun BMKG Bandara Ahmad Yani 173 mm/hari, di Stasiun Klimatologi BMKG Semarang 171 mm/hari, di Pos Hujan Beringin Ngaliyan 183 mm/hari.

    Menurut dia, untuk wilayah Semarang, hujan harian bervariasi mulai hujan ringan (0-20 mm), sedang (20-50 mm), hingga hujan sangat lebat (100-150 mm). Februari, kata dia, merupakan bulan paling basah atau paling banyak hari hujan dan paling tinggi intensitas hujannya.

    "Apabila angka-angka ini dihitung statistik ekstremnya dari data historis yang panjang, maka akan didapatkan periode ulang kejadian ekstrem sekitar 50 tahun. Artinya besaran lebih dari 150-180 mm/hari itu dari hitungan statistik memiliki peluang 1/50, terjadi sekali dalam 50 tahun," kata Siswanto.

    Namun demikian, kata dia, hal tersebut tidak berarti hujan ekstrem tersebut baru berulang 50 tahun lagi. Kejadian tersebut bisa saja berulang setiap tahun dengan peluang 2 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.