Buwas: Bulog Dapat Impor 80 Ribu Ton Daging Kerbau Tahun Ini

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso melepas 20 truk untuk operasi pasar wilayah DKI Jakarta dari Kantor Pusat Perum Bulog, Senin, 23 September 2019. TEMPO/Eko Wahyudi

    Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso melepas 20 truk untuk operasi pasar wilayah DKI Jakarta dari Kantor Pusat Perum Bulog, Senin, 23 September 2019. TEMPO/Eko Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau Buwas mengatakan perseroan mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk impor daging kerbau sebanyak 80 ribu ton. Dia mengatakan impor tersebut akan dilakukan secara bertahap dari India dengan melihat kebutuhan pasar dalam negeri pada tahun ini. 

    "Kami ajukan dan ini sudah diputus di Rakortas (rapat koordinasi terbatas) bahwa Bulog dapat jatah penugasan untuk impor daging kerbau 80 ribu ton, tunggal," kata Buwas dalam konferensi pers virtual, Rabu, 3 Februari 2021.

    Menurutnya, mengajukan impor daging itu memenuhi kebutuhan khususnya menghadapi puasa dan lebaran yang diprediksi terjadi peningkatan konsumsi.

    Buwas menuturkan tahun lalu, Bulog hanya bisa merealisasikan impor 37.000 ton, dari jatah yang diberikan 100.000 ton. Dia berharap realisasi impor tahun ini sesuai dengan alokasi yang telah diberikan pemerintah sebesar 80 ribu tersebut.

    Baca Juga: Tak Mau Terus-menerus Rugi, Budi Waseso Akan Perkuat Komersialisasi Bulog

    Saat ini, dia berencana melakukan lelang untuk menetapkan supplier daging kerbau dari India yang akan mengirim ke Indonesia. Dia belum melakukan lelang, karena surat untuk impor baru didapatkan.

    "Kami baru membuat administrasi surat yang nanti ditindaklanjuti dengan undangan secara terbuka kepada para calon supplier yang akan menjual daging kerbau kepada kita," ujarnya.

    Selain menyesuaikan kebutuhan dalam negeri, distribusi daging kerbau India itu juga disesuaikan dengan kemampuan supplier di tengah masa pandemi Covid-19.

    "Karena bisa jadi India tiba-tiba lockdown. Oleh karena itu nanti kita bagi dengan kemampuan supplier di sana, bisa saja satu bulan itu 10 ribu ton, 50 ribu ton, tergantung kemampuan supplier di sana secara bertahap," kata Budi Waseso, Dirut Bulog.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.