Pandemi, Wamenkeu: Negara-negara Berlomba Amankan Diri dengan Menarik Utang

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Kementerian Keuangan atau Kemenkeu. Dok TEMPO

    Gedung Kementerian Keuangan atau Kemenkeu. Dok TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara berujar hampir semua negara mengalami kepusingan untuk menavigasi pertumbuhan ekonomi yang anjlok akibat pandemi Covid-19. Dalam kondisi itu, defisit anggaran melebar, dan tak sedikit negara-negara berupaya mengamankan diri dengan menarik utang untuk membiayai anggarannya.

    "Ini yang dikatakan negara berlomba-lomba mengamankan diri dengan cara utang. Semua negara berlomba-lomba mengamankan diri dengan harus punya cash," ujar Suahasil dalam webinar, Sabtu, 30 Januaro 2021.

    Ketika vaksin muncul, negara-negara juga akan berlomba untuk membelinya. Sehingga, periode vaksinasi juga akan menjadi dinamika tersendiri. "Karena soal vaksin menjadi siapa yang mampu membeli."

    Indonesia pun tidak lepas dari kenaikan utang. Suahasil mengatakan pada periode awal pandemi Covid-19 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi. Pasalnya, dengan adanya pembatasan orang untuk keluar rumah, konsumsi turun. Di samping oti investasi pun terhenti dan ekspor-impor terhambat.

    Pada situasi tersebut, tutur dia, belanja pemerintah menjadi tumpuan utama bagi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, dalam situasi penerimaan negara berkurang, belanja negara tidak bisa dikurangi dan mesti menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

    Karena itu, APBN Indonesia pun akhirnya mesti defisit lebih dari disiplin anggaran biasanya di bawah 3 persen, menjadi ke 6,1 persen dari Produk Domestik Bruto. Dengan demikian, ia mengatakan kontraksi ekonomi bisa ditekan ke minus 1,9 persen berdasarkan datan IMF.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.