Ini Yang DIkhawatirkan Mendag Lutfi setelah Neraca Perdagangan 2020 Surplus

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Erick Thohir mengunggah fotonya bersama sahabatnya Muhammad Lutfi and Harry Zunardy pada 2014 lalu. Sebelum ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan, Lutfi diangkat menjadi Duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat sejak 14 September 2020. Instagram

    Erick Thohir mengunggah fotonya bersama sahabatnya Muhammad Lutfi and Harry Zunardy pada 2014 lalu. Sebelum ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan, Lutfi diangkat menjadi Duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat sejak 14 September 2020. Instagram

    TEMPO.CO, Jakarta - Kendati neraca perdagangan 2020 surplus, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memiliki kekhawatiran. Dia mengatakan surplus perdagangan saat ini terjadi karena impor turun lebih tajam dibandingkan penurunan ekspor.

    "Hari ini surplus USD 21,7 miliar mengkhawatirkan, kenapa? Karena ekspor turun 2,6 persen, meski non-migas turun setengah persen. Tetapi impor turun lebih jauh jadi 17,3 persen," katai Lutfi dalam konferensi pers virtual, Jumat, 29 Januari 2021.

    Dia menuturkan 70,3 persen atau hampir dari tiga per empat impor Indonesia, dipakai untuk bahan baku dan bahan penolong. Jadi, kata dia, kalau bahan baku dan penolong turun, membuat itu industrialisasi dalam negeri turun. Kalau industri turun, dia menduga disebabkan konsumsi masyarakat yang juga turun.

    Penurunan itu, kata dia, sejajar dengan kondisi perbankan di dalam negeri. Di mana terjadi kontraksi penyaluran kredit perbankan. Hal itu, menunjukkan konsumsi tidak jalan dengan baik, karena tidak terjadi produksi.

    "Produksi tidak jalan karena tidak ada konsumsi dan tidak ada industrialisasi dan jangan-jangan karena produk impor turunnya ketahanan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.