LPS Prediksi Masyarakat Masih Tahan Daya Beli di Awal Tahun

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo baru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    Logo baru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan dana masyarakat di perbankan masih akan tumbuh pada awal tahun ini. Masyarakat masih belum banyak menggunakan daya belinya untuk konsumsi.

    Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dana masyarakat masih terus menunjukkan pertumbuhan sejak akhir tahun lalu. LPS pun melihat kecenderungan tersebut masih akan berlanjut pada awal tahun ini.

    "DPK awal tahun masih akan meningkat. Kalau dilihat soal konsumsi, masyarakat masih tertahan oleh pembatasan kegiatan sosial sehingga mempengaruhi belanja mereka, sehingga wajar DPK belum banyak dipakai untuk konsumsi," sebutnya, dalam konferensi pers LPS, Kamis 28 Desember 20210.

    Meski demikian, Kepala Eksekutif LPS Lana Soelistianingsih masih optimistis DPK akan cepat dapat digunakan awal tahun ini, guna peningkatan belanja dan pemulihan ekonomi.

    "Kalau dilihat indeks keyakinan konsumen sudah membaik di Desember dibandingkan dengan November meskipun belum pulih 100 persen. Sampai Januari sudah ada geliat belanja, diperkirakan konsumsi akan meningkat seiring dengan distribusi vaksin," imbuhnya.

    Berdasarkan data LPS, nominal simpanan per November 2020 tercatat Rp 6.702 triliun, atau naik 10,3 persen secara tahunan. Secara bulanan, posisi ini pun masih tercatat naik 0,2 persen.

    Adapun, LPS mempertahankan suku bunga penjaminannya. Tingkat bunga penjaminan LPS untuk simpanan berjangka bank umum rupiah masih berada pada 4,50 persen, dan valas di 1,00 persen. Sementara itu, untuk bank perkreditan rakyat di 7,00 persen.

    Baca: LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan bagi Bank Umum dan BPR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.