PT Sri Rejeki Isman Tunda Rencana Penerbitan Obligasi Global

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Emiten tekstil, PT Sri Rejeki Isman Tbk., terus mencari waktu yang tepat untuk merealisasikan rencana penerbitan obligasi global dengan nilai maksimal US$325 juta. Corporate Communication Sri Rejeki atau Sritex Isman Joy Citradewi mengatakan bahwa perseroan menunda rencana penerbitan obligasi tersebut dalam waktu dekat. 

    “Untuk rencana penerbitan saat ini kami tunda dulu, karena melihat kondisi pasar yang belum membaik,” ujar Joy kepada Bisnis, Rabu 27 Januari 2021.

    Untuk diketahui, emiten berkode saham SRIL itu berencana menerbitkan obligasi global sebanyak-banyaknya US$325 juta dengan kupon dan tenor yang belum dijelaskan secara detail oleh perseroan.

    Sritex juga belum menjelaskan secara detail rencana penggunaan dana dari hasil penerbitan obligasi tersebut. Obligasi global itu akan diterbitkan dan dicatatkan di Bursa Efek Singapura.

    Nantinya, obligasi itu akan dijamin entitas anak usaha perseroan, yaitu oleh PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya.

    Adapun, hingga kuartal III/2020 SRIL berhasil mencetak pertumbuhan tipis 1,34 persen terhadap kinerja penjualan menjadi sebesar US$907,11 juta, dibandingkan dengan perolehan kuartal III/2019 sebesar US$895,07 juta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.