Terpopuler Bisnis: Harga Telur Ayam hingga Sri Bintang Pamungkas Gugat BCA

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menata telur saat Gelar Pangan Murah (GPM) di Pasar Cipete Utara, Jakarta Selatan, Selasa, 29 Desember 2020. Dinas Ketahanan Pangan, Kelatuan dan Perikanan (DKPKP) DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Pertanian mengadakan Gelar Pangan Murah telur ayam dan Cabai di lima wilayah pasar di Ibu Kota hingga 30 Desember 2020. Pada Gelar Pangan Murah tersebut telur dijual dengan harga Rp24.000 per kilogram dan cabai dijual dengan harga Rp50.000 per kilogram. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas menata telur saat Gelar Pangan Murah (GPM) di Pasar Cipete Utara, Jakarta Selatan, Selasa, 29 Desember 2020. Dinas Ketahanan Pangan, Kelatuan dan Perikanan (DKPKP) DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Pertanian mengadakan Gelar Pangan Murah telur ayam dan Cabai di lima wilayah pasar di Ibu Kota hingga 30 Desember 2020. Pada Gelar Pangan Murah tersebut telur dijual dengan harga Rp24.000 per kilogram dan cabai dijual dengan harga Rp50.000 per kilogram. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta -Berita terpopuler ekonomi dan bisnis sepanjang Selasa, 26 Januari 2021, dimulai dari harga telur ayam ras di level peternak anjlok menjadi Rp 16-17 ribu per kilogram hingga 8 fakta gugatan Rp 10 miliar Sri Bintang Pamungkas ke BCA.

    Adapula berita tentang Presiden Jokowi meminta pemerintah daerah membangun sentra-sentra perekonomian di sepanjang Jalan Tol Kayu Agung-Palembang, Sumatera Selatan dan berita soal Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) Fitria Yusuf menanggapi gugatan Tommy Soeharto.

    Berikut empat berita terpopuler bisnis sepanjang kemarin:

    1. Harga Telur Anjlok karena Permintaan Nihil dari Jabodetabek, Peternak Panik

    Harga telur ayam ras di level peternak anjlok menjadi Rp 16-17 ribu per kilogram. Ketua Presidium Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi mengatakan harga telur merosot karena tidak terserap oleh pasar, khususnya di Jabodetabek dan Bandung.

    “Permintaan dari pedagang Jabodetabek dan Bandung tidak ada. Peternak jadi panik karena produksi terus berjalan,” ujar Musbar saat dihubungi Tempo, Senin, 25 Januari 2021.

    Tidak terserapnya komoditas membuat stok di gudang menumpuk. Selain berakibat pada turunnya harga, rendahnya penyerapan mengakibatkan kapasitas gudang tak mampu menampung stok telur yang ada.

    Menurut Musbar, permintaan pedagang Jabodetabek dan Bandung kepada peternak menurun 20-30 persen sejak awal tahun. Di saat yang sama, peternak kesulitan menyalurkan telur ke daerah tujuan lain seperti Indonesia timur. Sebab, saat ini permintaan di Indonesia timur juga sangat rendah.

    Kondisi tersebut menyebabkan harga komoditas terus melorot di bawah harga normal. Semestinya, harga telur di tingkat peternak berkisar Rp 19-20 ribu.

    Baca berita selengkapnya di sini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.