Stok Tak Terserap Akibat PPKM, Harga Telur di Peternak Anjlok

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi telur. Sumber: iStock/foxnews.com

    Ilustrasi telur. Sumber: iStock/foxnews.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga telur ayam ras anjlok di bawah biaya pokok produksi di Pulau Jawa menyusul rendahnya serapan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Kalangan peternak menyebut minimnya serapan menyebabkan penumpukan stok di kandang.

    Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Musbar Mesdi menjelaskan harga telur di tingkat kandang dipatok Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu per kg. Harga ini berada di bawah biaya produksi yang mencapai Rp 19 ribu sampai Rp 20 ribu per kg. “Pembatasan di DKI Jakarta dan Jawa Barat sangat berpengaruh ke serapan, akibatnya telur-telur tidak bisa keluar kandang,” kata Musbar saat dihubungi, Senin, 25 Januari 2021.

    Data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menunjukkan harga telur di berbagai wilayah di Pulau Jawa per 23 Januari 2021 berkisar di Rp 17 ribu sampai Rp 19 ribu per kg. Harga ini lebih rendah dibandingkan dengan harga awal Januari yang masih di kisaran Rp 19 ribu sampai Rp 21 ribu per kg.

    “Sebenarnya harga turun setelah Natal dan Tahun Baru lumrah, hanya saja sekarang diperburuk dengan PSBB dan kenaikan harga pakan,” kata dia.

    Kenaikan harga kedelai yang terjadi belakangan turut memengaruhi harga pakan mengingat bungkil kedelai (soybean meal) merupakan salah satu bahan baku produk ini.

    Musbar pun mengatakan pasokan yang melimpah ini tidak bisa langsung diselesaikan dengan melakukan afkir dini pada ayam petelur. Dia menjelaskan afkir dini pada ayam layer tetap sulit direalisasikan karena tidak terserap optimal. Umumnya, ayam afkir diserap UMKM yang menjual makanan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?