KLHK: Banjir Kalsel Akibat Cuaca, Bukan karena Luas Hutan Menyusut

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banjir menggenangi permukiman di Desa Dukuh Rejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel pada Sabtu 9 Juni 2019. Foto: BPBD Kalsel

    Banjir menggenangi permukiman di Desa Dukuh Rejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel pada Sabtu 9 Juni 2019. Foto: BPBD Kalsel

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan atau Banjir Kalsel lebih disebabkan oleh anomali cuaca. Anomali tersebut berupa curah hujan sangat tinggi selama lima hari yakni 9 sampai 13 Januari 2021.

    "Terjadi peningkatan 8-9 kali lipat curah hujan dari biasanya," kata Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, KLHK, Karliansyah, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 19 Januari 2021.

    Sehingga, kata Karliansyah, air yang masuk ke sungai Barito di Kalimantan Selatan sebanyak 2,08 miliar meter kubik. Sementara, kapasitas sungai kondisi normal hanya 238 juta meter kubik," ujarnya.

    Sebelumnya, banjir menerjang 10 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Hingga Ahad pekan lalu, 18 Januari 2021, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 24 ribu rumah terendam dan 35 ribu lebih warga mengungsi.

    Di sisi lain, Karliansyah juga mengatakan banjir ini bukan soal luas hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito yang menciut. Menurut dia, DAS Barito Kalsel seluas 1,8 juta hektare hanya merupakan sebagian dari DAS Barito Kalimantan yang mencapai 6,2 juta hektare.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.