Tak Capai 10 Persen, OJK Sebut Indeks Literasi Keuangan Syariah Masih Rendah

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Ki-ka) Direktur Pembiyaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman  melakukan sosialisasi sukuk ritel seri SR012 di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu 29 Februari 2020. EKO WAHYUDI l Tempo.

    (Ki-ka) Direktur Pembiyaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman melakukan sosialisasi sukuk ritel seri SR012 di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu 29 Februari 2020. EKO WAHYUDI l Tempo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Wimboh Santoso menyebut indeks literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data lembaganya, indeks tersebut tak mencapai 10 persen atau hanya 8,93 persen.

    “Sedangkan indeks literasi nasional 38,03 persen,” ujar Wimboh dalam acara Sharia Economic Outlook bertajuk ‘Ekonomi Syariah Indonesia 2021’ yang digelar secara virtual, Selasa, 19 Januari 2021.

    Kondisi ini juga diikuti dengan inklusi keuangan syariah yang masih tergolong lemah. OJK mencatat inklusi keuangan syariah sampai 2020 baru berkisar 9,1 persen atau jauh tertinggal dari inklusi nasional yang telah menyentuh 76,10 persen.

    Sementara itu, market share keuangan syariah tercatat rendah dengan proporsi total aset sebesar 9,9 persen. Wimboh menargetkan market share keuangan syariah bisa tumbuh paling tidak 20 persen.

    Menurut Wimboh, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah menghadapi tantangan berat. Meski total aset keuangan syariah tumbuh pesat, yakni mencapai 21,84 persen pada 2020, atau melampaui industri keuangan konvensional, sektor ini harus berpacu dengan pelbagai perubahan.

    Dari sisi model bisnis, misalnya, keuangan syariah dipandang harus mencari diferensiasi atau perbedaan produk dengan industri keuangan konvensional. Saat ini, tutur Wimboh, produk keuangan syariah dinilai masih sangat terbatas. Wimboh menyarankan keuangan syariah menambah variasi produknya dengan menjangkau saham syariah, sukuk korporasi, reksa dana syariah, surat berharga negara, asuransi syariah, hingga pembiayaan syariah lainnya.

    Di samping itu, dia meminta industri keuangan syariah berfokus pada  produk-produk keuangan yang membantu kredit usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) serta pasar retail. Kemudian, Wimboh juga menyoroti adaptasi teknologi keuangan syariah yang masih rendah. Ia mengatakan teknologi merupakan basis yang bakal menjadi pengubah atau game changer bagi pemulihan ekonomi di masa pandemi.

    “Di mana customer harus bisa mengakses (produk keuangan syariah) dengan masif, cepat, dan murah,” kata Ketua OJK, Wimboh Santoso. Tantangan lainnya, ia melihat sumber daya manusia di pasar keuangan syariah masih belum memadahi.

    Baca Juga: OJK Dorong Bank Syariah Non Himbara Perkuat Modal Saingi Bank Syariah Indonesia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.