RI Masih Impor Listrik Malaysia hingga 120 Megawatt, Ini Kata ESDM

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 19_ekbis_tariflistrik

    19_ekbis_tariflistrik

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rasio impor listrik sepanjang 2020 mencapai 0,54 persen.

    Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan bahwa rasio impor listrik merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kemandirian terhadap energi listrik.

    "Adakah sebagian listrik yang dikonsumsi itu datang dari luar negeri, nyatanya ada," ujar Rida dalam konferensi pers secara virtual, Rabu 13 Januari 2021.

    Saat ini, wilayah Kalimantan Barat masih mengimpor sebagian kebutuhan listrik dari Malaysia, yakni sebesar 100–120 megawatt (MW). Impor listrik ini merupakan kerja sama bilateral antara pemerintah (government to government) yang pelaksanaannya dilakukan oleh PT PLN (Persero) dan BUMN listrik Malaysia, Sarawak Electricity Supply Corporation (SESCO). 

    Rida menyebutkan bahwa kerja sama kedua BUMN tersebut terbagi dalam beberapa tahap. Untuk tahap pertama, Indonesia mendapat bagian sebagai pengimpor listrik.

    Namun bila pembangunan pembangkit di Kalimantan Barat selesai, ke depannya Indonesia berpotensi untuk mengekspor listrik ke Malaysia.

    "Mudah-mudahan ini jika pembangkit Kalimantan itu sudah selesai, kita akan mengekspor listrik ke Malaysia dengan jalur yang sama," katanya.

    Baca: Cara Pakai PLN Mobile untuk Dapatkan Token Listrik Gratis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.