Dampak Pandemi ke Properti, REI: Bisa Dibilang Kita Hadapi Masa Paling Kelam

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan apartemen dikawasan Tanah Abang, Jakarta, Kamis, 3 Desember 2020. Pertumbuhan Indeks Pasokan Properti Komersial pada kuartal III/2020 melambat. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan apartemen dikawasan Tanah Abang, Jakarta, Kamis, 3 Desember 2020. Pertumbuhan Indeks Pasokan Properti Komersial pada kuartal III/2020 melambat. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 berdampak pada penjualan properti yang merosot tajam selama tahun lalu. 

    Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Hari Ganie mengatakan pandemi Covid-19 berdampak pada berkurangnya penjualan sektor properti dengan penjualan subsektor perumahan mencapai 50 hingga 60 persen.

    Dia menyebutkan untuk sektor perhotelan dan ritel penurunannya lebih parah lagi yakni mencapai 95 persen. "Bisa dibilang sekarang kita [kalangan pengembang] menghadapi masa yang paling kelam saat ini," ungkap Hari Ganie, seperti dikutip dari Bisnis.com, Ahad 10 Januari 2021.

    Dia memprediksi pemulihan sektor properti akan memerlukan waktu yang lama. Bukan tak mungkin, lanjutnya, pandemi masih berdampak pada penjualan properti dalam 1–2 tahun ke depan.

    "Per hari ini sektor perumahan properti sangat terdampak dari awal 2020 sampai hari ini dan kami perkirakan sampai 1 tahun, atau bahkan 2 tahun ke depan masih juga terdampak," kata Hari.  

    Dia berharap kehadiran UU Cipta Kerja dapat membenahi regulasi yang berkaitan dengan sektor properti dan menjadi katalis positif bagi industri properti.

    Sepanjang tahun lalu, bisnis perumahan menjadi andalan pengembang di tengah keterpurukan bisnis properti secara keseluruhan yang melanda dunia akibat pandemi Covid-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Risiko Terpapar Covid-19 Lebih Rendah Setelah Vaksinasi

    PDPI, Erlina Burhan, mengatakan bahwa vaksinasi Covid-19 tidak berarti menjamin kekebalan sepenuhnya bagi para penerimanya.