Ketika Dahlan Iskan Mengapresiasi Erick Thohir

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 30 November 2020. Rapat tersebut membahas permasalahan asuransi Jiwasraya, road map BUMN, restrukturisasi BUMN dan lainnya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri BUMN Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 30 November 2020. Rapat tersebut membahas permasalahan asuransi Jiwasraya, road map BUMN, restrukturisasi BUMN dan lainnya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri BUMN 2011-2014 Dahlan Iskan memuji penyusunan buku 'Akhlak untuk Negeri' oleh Menteri BUMN saat ini Erick Thohir ketika peluncuran buku tersebut di Jakarta, Rabu, 7 Januari 2020. Dahlan pun mengapresiasi Erick yang mengonsep sendiri corporate culture Kementerian BUMN

    "Saya melihat buku ini sebetulnya itulah Erick Thohir. Kalau membaca buku, kita akan tahu personifikasi Meneg BUMN Erick Thohir," ucap Dahlan.

    Dalam kesempatan itu, Erick menyampaikan, Akhlak menjadi "core value" Kementerian BUMN. Akhlak merupakan akronim dari Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.

    "Yang pertama yang ingin saya benahi dalam pengelolaan BUMN adalah Amanah, tentu harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. BUMN ini merupakan perpanjangan tangan negara sebagai agen pembangunan dan juga pengelola kekayaan negara," kata Erick.

    Lalu Kompeten, menurut dia, BUMN dituntut untuk selalu meningkatkan kapabilitas. Kemudian Harmonis, menjadi kunci keserasian dalam bekerja sama.

    "Harmonis menjadi kunci keserasian, kerja sama, saling peduli, dan menghargai perbedaan. Itu adalah kunci bisa sukses," kata Erick.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.