Menakar Potensi Cuan Investasi di 2021, Mulai dari SBN, Emas hingga Properti

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melakukan transaksi jual beli emas di Butik Emas Antam, Jakarta, Selasa, 28 Juni 2020. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    Pengunjung melakukan transaksi jual beli emas di Butik Emas Antam, Jakarta, Selasa, 28 Juni 2020. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO, Jakarta - The Development Bank of Singapore atau DBS Bank melihat adanya perkembangan positif terhadap investasi pada tahun ini. Chief Investment Officer DBS Bank Hou Wey Fook menuturkan perkembangan vaksin memberikan harapan bahwa ekonomi global dapat kembali pulih. Menurut Fook, hal ini terlihat dengan adanya pemulihan dalam pendapatan korporasi, kebijakan stimulus fiskal, serta suku bunga riil yang negatif dapat mendukung pemulihan perekonomian. 

    "DBS CIO menyarankan masyarakat untuk tetap berinvestasi dengan barbell strategy yang mana berfokus pada dua hal, yaitu pertumbuhan nilai aset dan pendapatan," tutur Fook, Rabu 6 Januari 2021. Investasi 2021

    Dalam sisi pertumbuhan, DBS CIO menyarankan untuk berinvestasi terhadap perusahaan Inovator, Pembaharu (Disruptor), Pembuka Kesempatan (Enabler), dan Penyadur (Adapter) atau IDEA. Dalam waktu yang bersamaan, ujar Fook, pertumbuhan positif juga terjadi pada perusahaan "vaccine winners", yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata, properti Asia, perbankan global, dan saham energi.

    Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana melihat tren positif obligasi masih berlanjut pada tahun ini, terutama untuk beberapa industri yang sudah mulai pulih. Namun, kata dia, rentang waktu pemulihan masing-masing emiten akan berbeda-beda, terutama yang berhubungan dengan perilaku masyarakat seperti pariwisata atau properti.

    "Beberapa industri healthcare, farmasi, telekomunikasi, perbankan, otomotif, hingga komoditas sepertinya sudah kembali pada kondisi sebelum Covid-19 atau bahkan lebih baik," tutur Fikri.

    Menurut Fikri, obligasi merupakan salah satu pilihan masyarakat karena dinilai sebagai investasi yang paling aman. Meski sudah ada pemulihan ekonomi, Fikri mengatakan obligasi masih tetap diminati karena pemulihan ekonomi masih memerlukan waktu. Ia berujar Surat Berharga Negara (SBN) masih akan diminati sebagai risk averse atau menjauhi risiko, baik investor domestik atau global.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI Nyatakan Vaksin Covid-19 Sinovac Berstatus Halal, Ini Alasannya

    Keputusan halal untuk vaksin Covid-19 itu diambil setelah sejumlah pengamatan di fasilitas Sinovac berikut pengawasan proses pembuatan secara rinci.