Pengusaha: 2020, Pertumbuhan Sektor Makanan dan Minuman Hanya 1-2 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi usaha makanan dan minuman (mamin) di Indonesia.

    Ilustrasi usaha makanan dan minuman (mamin) di Indonesia.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menyatakan pertumbuhan produk domestik bruto sektor makanan dan minuman hanya akan berkisar 1—2 persen pada 2020 secara tahunan. Hal tersebut berbeda dengan proyeksi Kementerian Perindustrian.

    "Pertumbuhan kami minimal 1—2 persen pada 2020, ini karena berbagai pertimbangan. Namun, kalau tahun depan saya sepakat paling sedikit [tumbuh] 5 persen atau di [kisaran] 7—9 persen," kata Adhi kepada Bisnis, Minggu, 3 Januari 2021.

    Kemenperin memproyeksikan industri makanan pada 2020 akan tumbuh hingga 3,06 persen, sedangkan industri minuman akan minus 2,55 persen. Dengan kata lain, pertumbuhan rata-rata industri makanan dan minuman hanya akan mencapai 0,51 persen.

    Sedangkan untuk 2021, Kemenperin meramalkan pertumbuhan industri makanan dapat mencapai 4,49 persen, sedangkan itu industri minuman dapat tumbuh hingga 4,39 persen. Artinya, Kemenperin meramalkan industri makanan dan minuman hanya dapat tumbuh sekitar 4,44 persen pada 2021.

    Adhi menilai bahwa pelaku industri makanan dan minuman lebih optimistis melihat proyeksi pertumbuhan 2021. Pasalnya, laju pertumbuhan lapangan usaha industri makanan dan minuman pada kuartal IV 2020 akan kembali meningkat dari realisasi kuartal III 2020 di level 0,66 persen.

    "Perhitungan yang dilakukan pemerintah belum final, baru proyeksi. Bisa saja naik turun. Kita tunggu saja Januari 2021," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.