Menkes Budi Gunadi dan Sandiaga Bahas Varian Baru Covid-19, Simak Obrolannya

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikino. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikino. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membahas varian baru Covid-19 bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Budi mengklaim bahwa varian baru Covid-19 di Indonesia secara konservatif belum teridentifikasi di Indonesia.

    "Karena Indonesia belum rutin melakukan genome squencing, jadi orang yg sakit diambil sampelnya," kata dia saat berbincang dengan Sandiaga Uno yang diunggah melalui akun Instagram, Ahad, 3 Januari 2020. Genome squencing adalah prosedur laboratorium dalam meneliti seluruh rangkaian DNA untuk menentukan urutan genom/DNA suatu organisme.

    Dia menuturkan dampak varian baru virus Covid-19, yaitu lebih cepat menular, tidak lebih mematikan, dan tetap bisa dideteksi virusnya dengan alat swab antigen atau PCR.

    "Tidak bisa dideteksi strainnya atau mutasinya, tapi kalau orang kena virus ini dideteksi pasti kena," ujarnya.

    Menurut Budi Gunadi, kemungkinan besar varian baru Covid-19, bisa dihambat oleh vaksin yang sekarang ada. Seperti buatan Sinovac atau Pfizer. Dia menuturkan virus adalah kumpulan protein yang hidup. Di dalam tubuh virus, kumpulan protein ini memiliki banyak amino acid yang membuatnya dapat bermutasi.

    "Dia virusnya bulet ada corona seperti tanduk-tanduk. Yang di dalamnya ada protein N, E, atau M yang tanduknya namanya protein S. Di dalam protein-protein ini banyak amino acid, komponen di dalam protein yang membentuk protein ini dan itu yang berubah-ubah," kata Budi Gunadi.

    Baca: Sembari Tunggu Vaksin, Sandiaga Uno: Tumpuan Kita Wisatawan Domestik

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.