Riset LIPI Bisa Tarik Devisa, Ini Caranya

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam malam penganugerahan IEYI 2019 di Tangerang Selatan, Banten, Jumat, 25 Oktober 2019. Kredit: ANTARA/Prisca Triferna

    Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam malam penganugerahan IEYI 2019 di Tangerang Selatan, Banten, Jumat, 25 Oktober 2019. Kredit: ANTARA/Prisca Triferna

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkomitmen untuk menunjukkan bahwa riset tidak selalu menjadi cost center, melainkan revenue center. Hal ini menyusul transformasi manajemen ditubuh lembaga riset pemerintah itu. 

    Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan instansinya akan mengeksplorasi dan mengoptimalkan berbagai aset dan konten untuk bisa menciptakan pendapatan yang bisa memberikan kontribusi langsung kepada negara ini.

    “Sebagai lembaga pemerintah, kami ingin menunjukkan bahwa riset tidak selalu menjadi call center, melainkan revenue center," katanya seperti dikutip dari keterangan pers LIPI, Sabtu 2 Januari 2020.

    Menurutnya, salah satu indikator kinerja peneliti khususnya peneliti senior adalah mendapatkan dana riset eksternal dari luar negeri. “Jadi riset itu tidak hanya menghabiskan uang, tetapi bisa mendatangkan devisa,” katanya.

    Seperti halnya di India, melalui aktivitas riset bisa mendatangkan devisa. Pendapatan lainnya adalah apabila hasil risetnya bagus dan bisa dilisensi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.