Catatan Akhir Tahun Sri Mulyani: Tidak Ada Perjuangan Sia-sia

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani membacakan pandangan akhir Pemerintah atas RUU tentang APBN saat rapat paripurna ke-6 masa persidangan I tahun sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan Sri Mulyani membacakan pandangan akhir Pemerintah atas RUU tentang APBN saat rapat paripurna ke-6 masa persidangan I tahun sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani menuliskan tiga lembar surat untuk anak buahnya guna menyambut tahun baru 2021. Surat berisi pesan khusus tersebut ia torehkan di kertas bergaris dengan warna putih tulang, yang potretnya dia bagikan melalui akun media sosial Instagram pribadi. 

    Sri Mulyani memulai layang itu dengan selarik kalimat untuk menutup 2020 yang penuh tantangan. “Hari ini hari terakhir tahun 2020, sebuah tahun yang luar biasa extraordinary,” katanya melalui akun @smindrawati, Kamis petang, 31 Desember 2020.

    Sri Mulyani mengatakan banyak orang ingin segera menutup tahun 2020 dan melaluinya lantaran terlalu banyak duka, nestapa, serta membuat lupa bersyukur akibat Covid-19. Bahkan, sebagian orang, kata Sri Mulyani, telah kehilangan keluarga, pasangan, maupun teman karena wabah.

    Kendati begitu, Sri Mulyani menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah bekerja keras menangani pandemi. “Saya bangga, terharu, berterima kasih serta bersyukur atas perjuangan dedikasi, komitmen seluruh jajaran,” katanya.

    Meski tahun anggaran 2020 telah ditutup, Sri Mulyani mengatakan ancaman pagebluk belum berakhir. Sebab, masih banyak orang yang berjuang melawan virus corona penyebab penyakit Covid-19. Karena itu, ia meminta para pegawai Kementerian Keuangan bekerja keras dengan ikhlas dan sabar.

    “Dengan ikhtiar ikhlas dan doa, kita jalani perjuangan dan waktu bersama, saling menjaga, saling peduli, saling mengingatkan. Tidak ada perjuangan sia-sia,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.