Sri Mulyani Ungkap 90 Persen SDM di Industri Keuangan Syariah dari Prodi Berbeda

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani membacakan pandangan akhir Pemerintah atas RUU tentang APBN saat rapat paripurna ke-6 masa persidangan I tahun sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan Sri Mulyani membacakan pandangan akhir Pemerintah atas RUU tentang APBN saat rapat paripurna ke-6 masa persidangan I tahun sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa industri keuangan syariah tumbuh mengesankan selama tiga dasawarsa atau sejak berdirinya bank syariah pada 1992 lalu. 

    Akan tetapi tantangan dihadapi dari segi sumber daya manusia (SDM). Hal ini perlu ditingkatkan kualitasnya agar memiliki daya saing.

    "Dalam rangka kebutuhan SDM di bidang keuangan syariah, Indonesia menyiapkan program studi, fakultas, bahkan sekolah tingggi yang khusus mengembangkan keuangan syariah," katanya saat sambutan melalui diskusi virtual, Selasa 29 Desember 2020.

    Berdasarkan hitung-hitungannya, Sri menjelaskan bahwa setiap tahun ada 40.000 lulusan dari pendidikan ekonomi dan keuangan syariah. Jumlah tersebut tentu sangat besar.

    Akan tetapi kuantitas tersebut juga menimbulkan masalah. Penyebabnya ada ketidaksamaan antara kebutuhan pasar dengan SDM yang dihasilkan.

    "SDM yang bekerja di sektor keuangan syariah 90 persen bukan berasal dari lulusan program studi ekonomi Islam dan keuangan syariah. Malah justru dari program studi yang lain," kata dia.

    Ini disebabkan lulusan tersebut tidak dilengkapi dengan kompetensi teknis yang dibutuhkan industri. Sementara dari perspektif dunia usaha, lebih mudah dan murah memanfaatkan yang ada lalu diberi pengetahuan sedikit tentang ekonomi syariah.

    "Tidak sedikit SDM yang diambil bahkan dari lembaga keuangan konvensional. Karena mereka paham indusri, paham konsumen, dan memiliki pengalaman memadai," ucap Sri Mulyani.

    Baca: Sri Mulyani: Volume Transaksi Saham Syariah Sepanjang 2020 Naik 57 Persen


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.