Kaleidoskop 2020: 10 Isu Korporasi, Kabar Grab-Gojek Merger hingga Jiwasraya

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fitur pemesanan ojek secara online, baik di GoRide (kiri) dan GrabBike, kini sudah tidak dapat diakses seiring dengan efektif berlakunya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta per hari ini. TEMPO/Ariyani Yakti Widyastuti

    Fitur pemesanan ojek secara online, baik di GoRide (kiri) dan GrabBike, kini sudah tidak dapat diakses seiring dengan efektif berlakunya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta per hari ini. TEMPO/Ariyani Yakti Widyastuti

    TEMPO.CO, Jakarta - Isu-isu korporasi seperti merger Gojek-Grab mewarnai pemberitaan sepanjang 2020. Aksi yang dilakukan sejumlah entitas menarik perhatian masyarakat, mulai ekspansi, perombakan struktur, hingga respons menanggapi kondisi pandemi Covid-19.

    Berikut ini sepuluh isu aksi korporasi yang banyak dibincangkan selama setahun yang terekam menjadi kaleidoskop.

    1. Merger Grab dan Gojek berembus
    Sepanjang tahun, dua perusahaan ride hailing yang berkembang menjadi entitas super aplikasi ini diterpa isu merger. Kabar tersebut mulai meruak pada akhir 2019 setelah pendiri Gojek Indonesia, Nadiem Makarim, diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

    Kabar ini membesar pada Februari 2020 dan terus muncul sampai akhir tahun. Pemantiknya, bos SoftBank Group ditengarai ikut campur tangan di dalamnya menurut sejumlah media asing. Bahkan, isu beredar menyatakan perusahaan rintisan yang populer di Asia Tenggara ini aktif terlibat dalam pertemuan untuk berdiskusi soal merger.

    Adapun Grab Holding Inc. satu sikap dengan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek terkait dengan isu merger kedua perusahaan yang terus berembus kian kencang sampai dengan saat ini. Namun sepanjang isu berembus, baik Grab maupun Gojek mengambil sikap untuk tidak memberikan komentar.

    2. Kookmin Bank kuasai saham Bank Bukopin
    Pada pengujung Juli 2020, pemegang saham Bukopin, yakni KB Kookmin Bank, memutuskan menjadi pengendali PT Bank Bukopin Tbk dengan meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi 33,9 persen dari sebelumnya 22 persen. Kookmin menyuntik Bukopin dengan nilai modal US$ 780 juta atau setara dengan Rp 11,08 triliun (kurs Rp 14.200 per dolar Amerika Serikat.

    Sejak Kookmin menjadi pengendali, Direktur Utama Bank Bukopin Rivan A. Purwantono mengatakan dana pihak ketiga atau DPK perseroan mulai tumbuh positif jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. “Memang secara tahunan masih terlihat turun, tetapi sejak Kookmin masuk, sekitar 43 hari ini tren DPK positif,” tuturnya, 6 November lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?