Saham Sritex Melemah Siang Ini, Dipicu Sentimen Isu Tas Bansos?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Truk berisi paket bantuan sosial tahap II dari Presiden Joko Widodo tiba di wilayah Rukun Warga (RW) 09, Kelurahan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 20 Mei 2020. Pemerintah pusat menyalurkan 276 paket sembako kepada warga terdampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah tersebut. TEMPO/Nita Dian

    Truk berisi paket bantuan sosial tahap II dari Presiden Joko Widodo tiba di wilayah Rukun Warga (RW) 09, Kelurahan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 20 Mei 2020. Pemerintah pusat menyalurkan 276 paket sembako kepada warga terdampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah tersebut. TEMPO/Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga saham PT Sri Rezeki Isman Tbk. atau Sritex berada di level Rp 280 per lembar saham atau melemah 1,41 persen pada pukul 13.40 WIB siang ini. Harga saham Sritex sempat menyentuh titik terendah di level 268 dan tertinggi 284.

    Harga saham Sritex menanjak mulai pertengahan Maret tahun ini hingga berada di puncak level 302 pada Rabu 16 Desember lalu. Sejak itu saham emiten berkode SRIL ini melemah berturut-turut hingga hari ini. 

    Untuk hari ini, pelemahan saham terjadi beriringan dengan laporan berita pengadaan goodie bag bantuan sosial (bansos) yang diproduksi Sritex.

    Majalah Tempo pekan ini mengungkapkan Menteri Sosial Juliari Batubara dan tim khususnya menunjuk rekanan untuk memproduksi goodie bag. Dua anggota staf Kementerian Sosial menyebutkan, Juliari meminta mereka menghentikan pencarian vendor penyedia tas kain itu.

    Penyebabnya, tas yang digunakan sebagai wadah oleh Integra Padma Mandiri itu akan diproduksi oleh PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Padahal, semula, pengadaan tas itu diprioritaskan kepada usaha kecil- menengah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.