Ada Preorder Tes Antigen, Bos AP II Pastikan Antrean di Bandara Soetta Terurai

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon penumpang pesawat mengantre saat mendaftar untuk mengikuti tes cepat COVID-19 di area Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Ahad, 20 Desember 2020. ANTARA/Fauzan

    Calon penumpang pesawat mengantre saat mendaftar untuk mengikuti tes cepat COVID-19 di area Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Ahad, 20 Desember 2020. ANTARA/Fauzan

    TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II Muhammad Awaluddin memastikan antrean penumpang yang akan melakoni tes cepat Covid-19 atau rapid tet Antigen di Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah terurai sejak Senin pagi, 21 Desember 2020. Antrean memanjang dilaporkan sempat terjadi beberapa waktu sebelumnya.

    “Real time on site Pkl 10.51, lokasi SMMILE  Center Terminal 3 Soetta (tempat pengambilan spesimen tes rapid Antigen) normal dan landai,” tutur Awaluddin kepada Tempo melalui pesan pendek, Senin, 21 Desember.

    Awaluddin mengklaim pihaknya telah memantau sejumlah titik tes Covid-19 di Bandara Internasional Soekarno Hatta sejak pukul 07.00 WIB. Untuk mengurangi antrean, Awaluddin mengimbau masyarakat memanfaatkan layanan prajual atau pre-order.

    Angkasa Pura II resmi membuka layanan preorder atau prajual untuk tes rapid Antigen, tes usap (swab) dengan metode PCR, serta tes cepat atau rapid test anti-bodi bagi penumpang pesawat. Layanan tersebut mulai beroperasi pada 21 Desember.

    Lokasi pengetesan untuk tes Covid-19 yang melayani preorder tersebar di dua titik, yaitu Airport Health Center Terminal 2 (shelter skytrain) dan Terminal 3 (area lounge umroh). Pre-order bisa dilakukan melalui aplikasi Travelation yang terkoneksi dengan platform Indonesia Airports (INAirport).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.