Jumlah Wisatawan ke Australia Lebih Sedikit, tapi Devisa Lebih Besar dari RI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan berlibur pada liburan panjang Hari Maulid Nabi Muhammad SAW di Pantai Kuta, Badung, Bali, Jumat, 30 Oktober 2020. Obyek wisata terpopuler di Bali tersebut kembali ramai dikunjungi wisatawan yang sebagian besar turis domestik setelah sempat sepi kunjungan akibat terdampak pandemi COVID-19. ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

    Wisatawan berlibur pada liburan panjang Hari Maulid Nabi Muhammad SAW di Pantai Kuta, Badung, Bali, Jumat, 30 Oktober 2020. Obyek wisata terpopuler di Bali tersebut kembali ramai dikunjungi wisatawan yang sebagian besar turis domestik setelah sempat sepi kunjungan akibat terdampak pandemi COVID-19. ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

    TEMPO.CO, JakartaKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tidak akan lagi mengutamakan kuantitas kunjungan wisatawan asing atau wisman pasca-pandemi Covid-19. Kementerian telah mengubah konsep peta jalan pariwisata dengan mengedepankan kualitas atau belanja wisman per kunjungan demi mendongkrak pendapatan devisa.

    “Atas dasar benchmarking kita dengan negara tetangga, yang jumlah kunjungannya lebih sedikit tapi devisanya lebih tinggi,” ujar Staf Khusus Menteri Bidang Digital dan Industri Kemenparekraf Ricky Pesik dalam diskusi virtual bersama Tempo bertajuk ‘Peluang Investasi Pembangunan Infrastruktur, Perhubungan, dan Wisata’, Senin, 14 Desember 2020.

    Ricky lantas mencontohkan salah satu negara dengan pedapatan devisa pariwisata tinggi, yakni Australia. Menurut dia, jumlah wisman Negeri Kanguru jauh lebih sedikit dari Indonesia, namun rata-rata pengeluaran turis per hari lebih besar. Pada 2019, jumlah wisman Australia sekitar 12 juta orang, sedangkan Indonesia sebesar 16 juta orang.

    Untuk meningkatkan kualitas kunjungan, Ricky mengatakan Kementeriannya telah menyusun sejumlah langkah strategis, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, Kementerian membekali pelaku-pelaku usaha pariwisata di seluruh destinasi, termasuk desa wisata, dengan sertifikasi CHSE atau clean, health, safety, and environment secara gratis.

    ADVERTISEMENT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.