Belakangan Kasus Asuransi Marak, OJK Temukan Sejumlah Perusahaan Berisiko Tinggi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo OJK. wikipedia.org

    Logo OJK. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Ahmad Nasrullah menyebutkan ada sejumlah perusahaan asuransi jiwa yang mengelola aset melebihi kemampuannya atau excessive risk taking. OJK pun mengimbau agar industri bisa mengelola investasi dengan baik, agar kepercayaan masyarakat terus tumbuh.

    Nasrullah menjelaskan bahwa terdapat dua produk utama di asuransi jiwa, yakni produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit-linked dan dwiguna atau endowment. Kedua produk itu memiliki aspek investasi.

    Menurut Nasrullah, kedua produk tersebut mendominasi pendapatan premi asuransi jiwa setiap tahunnya sekitar 60 persen. Dalam catatan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia atua AAJI diketahui bahwa polis unit-linked mencakup 63,9 persen dari total premi industri.

    Sayangnya, dalam kondisi tersebut terdapat perilaku excessive risk taking dari perusahaan asuransi dengan investasi yang terlalu berisiko. Perusahaan itu menempatkan investasi di saham yang berisiko tinggi atau menurut Nasrullah di grup yang memiliki risiko exposure tersendiri.

    Permasalahannya yang serius, kata Nasrullah, kasus asuransi kembali meledak. "Kami melihat ada perilaku excessive risk taking dari perusahaan asuransi. Ini tidak lepas dari step pertama tadi, saat penjualan produk dan saat mendesain produk asuransi," ujar Nasrullah, Kamis, 10 Desember 2020.

    Nasrllah memperkirakan hal itu terjadi di antaranya karena sejumlah perusahaan asuransi jiwa terlalu optimistis terhadap kinerjanya. Bahkan, beberapa perusahaan menjamin imbal hasil produk yang sebenarnya disadari di luar kemampuan dari perusahaan.

    "Karena ada target ingin mendapatkan premi lebih, istilahnya hunger premiumJor-joran jualan, penempatannya tidak pas, excessive risk taking, ditambah kondisi Covid-19 seperti ini, jatuh perusahaan. Konsekuensinya apa? Tidak bisa memenuhi kewajiban kepada nasabah," ujarnya.

    Selain itu, otoritas pun menemukan adanya kecenderungan hasil investasi yang menutupi hasil underwriting, sehingga perusahaan asuransi sangat bergantung kepada kinerja investasi. Kondisi itu membuat OJK menekankan pentingnya pengelolaan investasi oleh industri asuransi jiwa, agar tidak terjadi kegagalan pengelolaan keuangan.

    "Artinya kalau di sini (investasi) dia failed, ya sudah, selesai semua. Paling yang kami kejar adalah pemegang saham pengendalinya untuk menambah modal. Jika itu tidak terjadi, ya sudah, berarti perusahaan itu gagal, dan ini yang kami khawatirkan akan berakibat kepada industri secara keseluruhan," ujar Nasrullah.

    BISNIS

    Baca: Kisah Nasabah Bumiputera Harus Utang Sana Sini Demi Kuliah Anak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.