Sri Mulyani Sebut Rasio Pajak RI Terus Terun, Apa Sebabnya?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani membacakan pandangan akhir Pemerintah atas RUU tentang APBN saat rapat paripurna ke-6 masa persidangan I tahun sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan Sri Mulyani membacakan pandangan akhir Pemerintah atas RUU tentang APBN saat rapat paripurna ke-6 masa persidangan I tahun sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakann dalam sepuluh tahun terakhir penerimaan pajak Indonesia, apabila dilihat dari rasio pajak terhadap PDB, terus mengalami penurunan.

    "Sehingga, upaya kita untuk terus mengembalikan penerimaan negara agar makin meningkat adalah upaya yang heroik," ujar dia dalam acara Tempo Country Contributor Award 2020, Selasa, 8 Desember 2020.

    Sri Mulyani mengatakan turunnya rasio pajak Indonesia dalam sepuluh tahun ini dapat dijelaskan. Beberapa penyebabnya antara laun adalah penurunan harga komoditas secara tajam setelah terjadinya guncangan global ekonomi pada 2008-2009 lalu.

    Guncangan itu sebenarnya sempat diikuti ledakan komoditas atau comodity boom sedikit, sebelum akhirnya kembali merosot sejak 2014 hingga sekarang.

    "Dilihat dari harga-harga komoditas kita melihat tren penurunan itu seiring dengan perkembangan ekonomi global dan sekarang ekonomi global masuk ke dalam zona resesi," ujar dia.

    Meskipun demikian, ia mengatakan tidak semua penurunan penerimaan pajak terjadi akibat harga komoditas atau pelemahan ekonomi. Ada faktor yang harus diperbaiki pemerintah dalam proses administrasi dan melaksanakan kebijakan perpajakan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.