Jokowi Lepas Ekspor 133 Perusahaan Senilai Rp 23,75 Triliun

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Banten Wahidin Halim Mendampingi Presiden RI Jokowi dalam peresmian pabrik baru Polyethylene (PE) milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) di Jalan Raya Anyer KM 123, Cilegon, Banten, Desember 2019 lalu. (dok Pemprov Banten)

    Gubernur Banten Wahidin Halim Mendampingi Presiden RI Jokowi dalam peresmian pabrik baru Polyethylene (PE) milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) di Jalan Raya Anyer KM 123, Cilegon, Banten, Desember 2019 lalu. (dok Pemprov Banten)

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi melepas ekspor 133 perusahaan senilai US$ 1,64 miliar atau setara dengan Rp 23,75 triliun.

    "Saya ingatkan agar kegiatan pelepasan ekspor seperti ini tidak hanya seremonial semata, tapi menjadi momentum yang berkelanjutan, menghasilkan eksportir yang terus meningkat," kata dia dalam konferensi pers virtual, Jumat, 4 Desember 2020.

    Dia mengatakan salah satu kunci untuk memperbaiki perekonomian nasional adalah meningkatkan ekspor. Bukan hanya membantu pelaku usaha untuk tumbuh dan membuka lapangan kerja, tetapi juga untuk menghasilkan devisa dan mengurangi defisit transaksi berjalan Indonesia.

    Menurutnya, pandemi Covid-19 dan perekonomian global yang lesu saat ini, berdampak pada pasar ekspor yang juga menurun.

    "Namun kita tidak boleh menyerah. Kita harus melihat lebih jeli, melihat peluang pasar ekspor yang masih terbuka lebar di negara-negara yang juga sekarang ini mengalami pandemi" ujarnya.

    Dia juga menekankan bahwa potensi meningkatkan ekspor Indonesia masig sangat besar dari sisi keragaman produk, komoditi , kreatifitas dan kualitas, volume dan tujuan negara ekspor. "Kuncinya proaktif dan jangan pasif," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.