BI Prediksi Inflasi Desember 0,22 Persen, Cabai Merah Jadi Penyumbang

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menata telur di kiosnya di Pasar Tebet, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08 persen yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi virus Corona. TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang menata telur di kiosnya di Pasar Tebet, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08 persen yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi virus Corona. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan Desember 2020 terjadi inflasi sebesar 0,22 persen secara month to month. Hal itu berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu I Desember 2020.

    "Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali," kata Kepala Grup Departemen Komunikasi Junanto Herdiawan dalam keterangan tertulis, Jumat, 4 November 2020.

    Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Desember 2020 secara tahun kalender sebesar 1,46 persen (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,46 persen (yoy).

    Penyumbang utama inflasi, yaitu cabai merah sebesar 0,04 persen (mtm), telur ayam ras dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,03 persen (mtm), tomat sebesar 0,02 persen (mtm), serta minyak goreng, jeruk, dan tarif angkutan udara masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).

    Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas emas perhiasan sebesar -0,07 persen (mtm) dan bawang merah sebesar -0,01 persen (mtm).

    Menurutnya, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.