Effendi Gazali Kembali Tantang Susi Pudjiastuti Debat Soal Ekspor Benih Lobster

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Susi Pudjiastuti. Instagram.com/@susipudjiastuti

    Susi Pudjiastuti. Instagram.com/@susipudjiastuti

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Pemangku-Kepentingan dan Konsultasi Publik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP2-KKP) Effendi Gazali kembali menantang mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, berdebat soal ekspor benih bening lobster atau BBL. Ajakan itu menjawab cuitan Susi beberapa waktu lalu yang mengunggah berita tentang Effendi terkait polemik ekspor benih lobster.

    “Di media sosial ada kalimat apakah Effendi masih berani diskusi dengan Bu Susi setelah penangkapan (Edhy Prabowo). Saya siap diskusi. Ayo di mana, apakah di DPR, di media, mudah-mudahan Bu Susi hadir,” katanya dalam webinar bersama Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Senin, 30 November 2020.

    Effendi akan memberikan masukan terhadap Susi terkait ekspor benih lobster berdasarkan kajiannya. Sebab dalam dua tahun terakhir, dia mendalami program ini secara serius.

    Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, Effendi mengatakan selama Susi menyetop ekspor benur, penyelundupan terhadap komoditas itu masih terus terjadi. Eksportir, kata dia, mengirimkan benih melalui Singapura ke negara-negara tujuan seperti Vietnam.

    Dalam debat, Effendi juga ingin menanyakan soal potensi benih lobster yang mencapai 850 miliar per tahun. Saat menjabat, kata Effendi, Susi mengatakan benur belum bisa diternakkan seperti udang faname.

    Padahal di seluruh dunia, seperti Australia, Effendi menekankan sudah banyak hatchery yang menernak lobster. Lobster ini pun bisa dipindahkan ke tambak sehingga memiliki nilai tambah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pam Swakarsa, dari Reformasi hingga Wacana Calon Kapolri Listyo Sigit Prabowo

    Dalam uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri, Listyo menyampaikan berbagai gagasan akan menghidupkan kembali pam swakarsa.