KPBB Usul Pertamina Turunkan Harga Pertamax, Bukan Pertalite

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas meletakkan jeriken berisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk layanan pesan antar BBM Pertamina di SPBU Pertamina MT Haryono, Jakarta, Rabu, 25 Maret 2020. Warga dapat mencoba layanan pesan antar BBM dan LPG ini lewat call center 135. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Petugas meletakkan jeriken berisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk layanan pesan antar BBM Pertamina di SPBU Pertamina MT Haryono, Jakarta, Rabu, 25 Maret 2020. Warga dapat mencoba layanan pesan antar BBM dan LPG ini lewat call center 135. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengusulkan agar PT Pertamina (Persero) memberi promo atau diskon pada Pertamax RON 92, ketimbang memberi diskon pada Pertalite RON 90. Pasalnya, ia mengingatkan bahwa seperti halnya Premium, Pertalite juga tak memenuhi standar Euro IV.

    "Harapannya dari Premium masyarakat beralih ke Pertamax langsung. Jadi jangan turunkan harga Pertalite. Yang harus diturunkan justru Pertamax," ujar Ahmad dalam webinar, Jumat, 27 November 2020.

    Ahmad mengatakan, berdasarkan survei lembaganya, faktor harga saat ini menjadi pertimbangan utama masyarakat memilih bahan bakar. Sementara, pertimbangan keselamatan dan keawetan mesin menjadi pertimbangan sebagian masyarakat.

    Dari sana, Ahmad juga menanyakan seberapa tinggi harga BBM Euro IV yang sanggup dibeli oleh masyarakat. Dari survei tersebut, ia mendapati bahwa preferensi harga bahan bakar yang sesuai bagi masyarakat adalah di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per liter.

    "Preferensi harga masyarakat itu sesuai dengan harga bahan baka di global, misalnya saja di Malaysia yang di kisaran Rp 6.800 per liter untuk bahan bakar Euro IV dan di Australia pada kisaran Rp 7.500 per liter untuk Euro VI," ujar Ahmad.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.