Faisal Basri Prediksi Ekonomi Indonesia Akan Terkontraksi Lebih Lama

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faisal Basri. TEMPO/M. Taufan Rengganis

    Faisal Basri. TEMPO/M. Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memperkirakan pemulihan ekonomi Indonesia akan lebih lama dari negara-negara sepantaran. Prediksi itu keluar apabila melihat pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih belum terkendali.

    "Akibat pandemi ini, saya perkirakan ekonomi akan terkontraksi relatif lebih lama dari negara peers. Kita baru tumbuh positif di kuartal II tahun depan," ujar Faisal dalam webinar, Kamis, 26 November 2020. Dengan demikian, ia memperkirakan ekonomi Indonesia masih minus hingga kuartal I 2021.

    Faisal mengatakan secara angka mungkin prediksinya tidak akan tepat. Namun, ia melihat bahwa tren ekonomi Indonesia yang negatif masih akan berlanjut hingga kuartal pertama tahun depan, mengingat penyebaran Covid-19 diperkirakan mencapai puncaknya pada Januari hingga Februari 2021. Sementara, perkembangan vaksinasi Covid-19 hingga kini masih belum jelas.

    Di sisi lain, Faisal melihat pemulihan ekonomi akan bergantung kepada konsumsi masyarakat yang kembali naik. Saat ini, ia melihat masyarakat cenderung masih menahan belanja dalam rangka berjaga-jaga di tengah ketidakpastian pandemi.

    Karena itu, Faisal berujar, kunci utama pemulihan ekonomi Indonesia adalah dengan pengendalian pandemi yang optimal. "Solusinya adalah virus di kendalikan, kendalikan, dan kendalikan. Itu akan otomatis membantu ekonomi tumbuh positif," ujar dia.

    Hal ini, menurut Faisal, menunjukkan bahwa kepercayaan kepada pemerintah untuk menangani virus Corona relatif rendah. Lantaran pemerintah terus melakukan kebijakan yang trial and error, serta masih berfokus kepada ekonomi. "Misalnya kebijakan libur bersama untuk memacu pariwisata, tapi membuat pariwisata semakin terpuruk karena pemulihan semakin lama."

    Faisal mengatakan para ekonom akan sulit memprediksi perekonomian lantaran kondisi penularan Covid-19 yang masih memburuk. Di sisi lain, kunci penanganan Covid-19, yaitu pengujian, juga dinilai masih belum maksimal dilakukan dan menyebabkan tingkat kematian di Indonesia relatif tinggi. Tingkat kematian di Indonesia, menurut dia, berada di kisaran 3,18 persen atau lebih tinggi dari rerata dunia yang 2,35 persen.

    Ia melihat jumlah pengujian di Indonesia masih belum meningkat signifikan, yaitu 2.000 uji per satu juta penduduk. Jumlah itu, menurut dia, hanya lebih baik dari 12 negara di Afrika, serta Myanmar, Afghanistan, dan Banglades. Negara-negara itu adalah negara dengan pendapatan per kapita lebih rendah dari Indonesia.

    "Indonesia sudah masuk negara berpendapatan menengah ke atas tapi kalah pengujiannya dari negara yang pendapatannya lebih rendah seperti Nepal dan Filipina," ujar Faisal.

    Ia juga mengkritik langkah pemerintah yang langsung melompat dengan memilih vaksinasi Covid-19. Padahal, sampai saat ini efektivitas dari vaksin Covid-19 yang sudah dipesan pemerintah pun masih belum teruji kemanjurannya.

    Baca juga: Faisal Basri Sebut Kebijakan BI Turunkan Suku Bunga Gak Nendang, Sebabnya?

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.