Faisal Basri Sebut Kebijakan BI Turunkan Suku Bunga Gak Nendang, Sebabnya?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance Faisal Basri menilai pemerintah dan Bank Indonesia sudah maksimal dalam merespons tekanan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. Namun, dampak dari kebijakan tersebut masih kurang terasa lantaran penyebaran Covid-19 yang masih belum mereda di Tanah Air.

    "BI turunkan suku bunga ke 3,75 persen bulan ini, tidak nendang. Karena apa? Karena Covid-19," ujar dia dalam webinar, Kamis, 26 November 2020. Lantaran pagebluk masih berlangsung, perbankan pun sulit untuk menyalurkan kreditnya.

    Faisal melihat perbankan sebenarnya hendak menyalurkan kredit, namun para pengusaha masih belum mau mencairkan kreditnya. Akibatnya penyaluran kredit perbankan terkontraksi o,5 persen pada Oktober 2020.

    Kebijakan pemerintah yang memberikan bantuan tunai kepada masyarakat juga dampaknya dinilai tidak efektif lantaran masih di bawah bayang-bayang virus Corona. "Masyarakat lebih memilih menurunkan konsumsi dan menaruh uang di bank," ujar Faisal. Akibatnya, Dana Pihak Ketiga di perbankan pun terus melambung hingga ke level dua digit.

    Hal ini, menurut Faisal, menunjukkan bahwa kepercayaan kepada pemerintah untuk menangani virus Corona relatif rendah. Terutama lantaran pemerintah terus melakukan kebijakan yang trial and error, serta masih berfokus kepada ekonomi. "Misalnya kebijakan libur bersama untuk memacu pariwisata, tapi membuat pariwisata semakin terpuruk karena pemulihan semakin lama."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.