Dirut Hutama Karya Beberkan Tantangan Bangun Jalan Tol Trans Sumatera

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan proyek tol Trans Sumatera ruas Palembang-Bengkulu Seksi Indralaya-Prabumulih di Indralaya, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Kamis 3 September 2020. Pembangunan tol sepanjang 65 km tersebut ditargerkan rampung pada 2021. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan proyek tol Trans Sumatera ruas Palembang-Bengkulu Seksi Indralaya-Prabumulih di Indralaya, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Kamis 3 September 2020. Pembangunan tol sepanjang 65 km tersebut ditargerkan rampung pada 2021. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Budi Harto mengatakan di masa awal pembangunan jalan tol Trans Sumatera terdapat banyak tantangan dan hambatan.

    Tantangan pertama adalah adanya truk-truk yang besar yang kelebihan muatan atau over dimensi overload (odol). "Ini merusak jalan tol dan mengancam keselamatan pengguna tol. Keberadaannya tidak standar dengan jalan tol yang kami desain ini," kata Budi dalam diskusi virtual, Rabu, 25 November 2020.

    Selain itu, trafik lalu lintas jalan tol Trans Sumatera masih rendah. Walhasil, hal tersebut sering kali mengundang kejahatan. Namun, saat ini perseroan menyediakan patroli setiap saat, sehingga para pengguna tol akan aman dari gangguan keamanan di sekitar tol.

    Hutama Karya melalui Peraturan Presiden nomor 100 tahun 2014 dan diperbaharui dengan Perpres 117 tahun 2015 mendapatkan penugasan membangun tol Trans Sumatera. Saat ini, ruas jalan yang sudah beroperasi sepanjang 513 kilometer dan sedang dibangun sepanjang 614 kilometer.

    Budi menargetkan pembangunan seluruh ruas jalan tol Trans Sumatera akan rampung pada 2024. Saat ini, perseroan sedang mengerjakan ruas jalan tol sepanjang 614  dan ditargetkan selesai pada 2022.

    Tantangan berikutnya yaitu ketersediaan lahan karena di beberapa daerah dibutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pembebasan tanah. Meski begitu, dia bersyukur banyak kepala daerah, masyarakat yang mendukung pembangunan jalan tol ini.

    Selain itu, kata Budi, ada cuaca hujan yang sering kali mengganggu pembangunan jalan tol. Sebab, pembangunan sebagian besar jalan di atas timbunan tanah yang tidak bisa menerima kandungan air tinggi. "Hal yg lain adalah ketersediaan sumber daya di daerah. Kami harus membawa peralatan dan tenaga ahli dari Jakarta, Jawa," ucapnya.

    Kendati banyak tantangan dan masalah yang dihadapi perusahaan dalam membangun tol Trans Sumatera itu, Budi tetap yakin, di masa mendatang infrastruktur ini akan jadi pendorong pertumbuhan dan pemulihan ekonomi. Akan ada peluang agar biaya logistik turun, pergerakan barang dan jasa akan lebih mudah.

    Baca: Di Depan DPR, Hutama Karya Sebut Tol Trans Sumatera Tahap I Butuh Rp 80,5 T


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.