Pemerintah Buka Sektor-sektor Baru untuk Investor Asing Tahun Depan, Apa Saja?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir (kanan) dan wakilnya, Kartika Wirjoatmodjo, memberikan keterangan seusai rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, di Jakarta Pusat, Selasa, 29 Oktober 2019. Rapat tersebut membahas proyek kereta layang ringan atau LRT Cibubur-Dukuh Atas yang akan beroperasi pada 2021. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir (kanan) dan wakilnya, Kartika Wirjoatmodjo, memberikan keterangan seusai rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, di Jakarta Pusat, Selasa, 29 Oktober 2019. Rapat tersebut membahas proyek kereta layang ringan atau LRT Cibubur-Dukuh Atas yang akan beroperasi pada 2021. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana mulai membuka sektor-sektor baru bagi masuknya investor asing pada 2021-2022. Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Kartika Wirjoatmodjo berharap langkah ini sekaligus bisa menjadi katalis bagi pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi Covid-19.

    “Kita siapkan beberapa kawasan industri, seperti di Subang,” ujar Kartika dalam acara Capital Market Summit and Expo yang ditayangkan secara virtual pada Selasa, 20 Oktober 2020.

    Pemerintah, tutur Kartika, membidik masuknya investor di bidang-bidang potensial, seperti farmasi, kesehatan, dan mineral. Mengacu pada tren pendapatan badan usaha milik negara atau BUMN selama kuartal II 2020, risiko dampak penurunan kinerja keuangan sektor kesehatan terlihat paling tipis ketimbang industri lainnya.

    Dibandingkan dengan periode yang sama 2019, sektor kesehatan hanya mengalami kontraksi hingga minus 14 persen sepanjang kuartal kedua. Angka tersebut jauh lebih baik dari penurunan pendapatan sektor pariwisata yang menyentuh -75 persen, logistik -40 persen, dan energi -25 persen.

    Sedangkan untuk sektor mineral, meski pendapatan di 2020 mengalami kontraksi -36 persen, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan komoditas tersebut pada masa mendatang. Pemerintah juga telah mencanangkan Indonesia menjadi produsen baterai lithium sebagai pemasok energi mobil elektrik, microgrids, dan produk elektronik lainnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menekan Penularan Covid-19 di Lokasi Wisata

    Pemerintah mengantisipasi lonjakan kasus baru Covid-19 pada liburan akhir tahun dengan beberapa upaya. Berikut detailnya.