Survei Indikator: 66 Persen Warga Anjlok Pendapatannya Akibat Covid-19

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan paparan pada rilis survey tentang Efek Kampanye dan Efek Jokowi di Jakarta (4/4). Penetapan Jokowi menjadi capres meningkatkan suara PDIP daripada efek kampanye karena mampu menarik pemilih yang masih mengambang (swing voters). ANTARA/Wahyu Putro

    Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan paparan pada rilis survey tentang Efek Kampanye dan Efek Jokowi di Jakarta (4/4). Penetapan Jokowi menjadi capres meningkatkan suara PDIP daripada efek kampanye karena mampu menarik pemilih yang masih mengambang (swing voters). ANTARA/Wahyu Putro

    TEMPO.CO, Jakarta -

    TEMPO.CO, Jakarta - Indikator melakukan survei mengenai mitigasi dampak Covid-19 bertajuk Tarik Menarik Kepentingan Ekonomi dan Kesehatan. Adapun survei dilakukan pada 24-30 September 2020.

    Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan sebanyak 55 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional secara umum buruk. Adapun 22,9 persen mengatakan sedang, 10,3 persen mengatakan sangat buruk, dan 8,9 persen mengatakan baik.

    "Kondisi ekonomi rumah tangga tampak belum menunjukkan perbaikan. Tapi pendapatan rumah tangga konsisten menunjukkan ke arah perbaikan," dinukil dari hasil temuan rilis survei tersebut, Ahad, 18 Oktober 2020.

    Dari hasil survei tersebut sebanyak 66,6 persen atau mayoritas responden mengaku mengalami penurunan pendapatan rumah tangga setelah adanya pandemi Covid-19. Pada Mei 2020, responden yang menyatakan mengalami penurunan pendapatan rumah tangga sebanyak 86,1 persen.

    Sementara itu, 31,4 persen responden menyatakan pendapatan rumah tangga tetap selama pandemi. Angka tersebut meningkat dari survei Mei 2020 yang menunjukkan hanya 12,7 persen responden mengatakan pendapatannya tetap.

    Dari responden yang mengaku mengalami penurunan pendapatan, Burhanuddin mengatakan, sebanyak 55 persen responden merasa sulit memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Lalu 12,3 persen merasa sulit memenuhi biaya sekolah, 11,3 persen merasa sulit memenuhi kebutuhan kuota internet untuk sekolah online, serta 10,5 persen merasa sulit karena kehilangan pekerjaan.

    Kendati demikian, lembaga survei Indikator menduga sudah semakin banyak masyarakat yang pendapatannya mulai pulih. "Ini kemungkinan karena kelompok yang mengalami PHK tidak semakin banyak dan yang sementara dirumahkan sudah tampak mulai aktif bekerja kembali," ujar Burhanuddin.

    Survei Indikator dilakukan menggunakan kontak telepon kepada responden. Sampel diambil sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.

    Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error atau MoE) sekitar ±2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

    Baca juga: Ekonom: Ketika Negara Lain Urus Pandemi Covid-19, Indonesia Urus Investasi

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Cuitan Penyebab Polisi Mengira Syahganda Dalang Demo UU Cipta Kerja

    Polisi menangkap Syahganda Nainggolan sebagai dalang kerusuhan UU Cipta Kerja.