Syahrul Yasin Limpo Jelaskan Penyebab Impor Biji Kakao Capai 234 Ribu Ton

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan petani mengoprasikan mesin pemotong padi saat panen raya, di Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo, Lampung Tengah, Lampung, Selasa 6 Oktober 2020. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan sektor pertnian menjadi kekuatan ditengah pandemic COVID-19, sektor pertanian Lampung diharapkan bukan hanya memenuhi kebutuhan Lampung melainkan untuk Indonesia juga. ANTARA FOTO/Ardiansyah

    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan petani mengoprasikan mesin pemotong padi saat panen raya, di Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo, Lampung Tengah, Lampung, Selasa 6 Oktober 2020. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan sektor pertnian menjadi kekuatan ditengah pandemic COVID-19, sektor pertanian Lampung diharapkan bukan hanya memenuhi kebutuhan Lampung melainkan untuk Indonesia juga. ANTARA FOTO/Ardiansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan impor biji kakao mencapai 234 ribu ton disebabkan karena kebutuhan yang besar tidak bisa dipenuhi sepenuhnya dari pasokan dalam negeri. Hal ini lantaran rendahnya produktivitas petani kakao. Seperti diketahui, produktivitas petani kakao saat ini ada di kisaran 0,7-0,8 ton per hektar.

    "Salah satu sebab rendahnya produktivitas petani kakao saat ini adalah bibit yang berkualitas. Kemampuan budaya dan keterampilan petani [kakao lokal] juga terbatas. Kalau terserang hama sedikit, dia kesulitan," ucapnya, Rabu, 8 Oktober 2020.

    Adapun, impor biji kakao per 2019 mencapai sekitar 234 ribu ton. Dengan kata lain, butuh setidaknya 292 ribu hektare kebun kakao atau lebih dari 190 juta bibit kakao dengan produktivitas saat ini untuk menghilangkan seluruh impor biji kakao.

    Syahrul mengatakan pihaknya telah menyiapkan 1 juta bibit kakao yang siap untuk ditanam untuk mewujudkan komitmen meningkatkan pasokan biji kakao di dalam negeri pada industri pengolahan.

    ADVERTISEMENT

    Adapun, Kementerian Pertanian akan bertemu Kementerian Perindustrian dalam waktu dekat terkait peningkatan pasokan bahan baku industri kakao tersebut. "2,5 tahun dari sekarang kita bisa tunjuk hasil kerjanya. Saya tidak pakai teori lagi, teori sudah banyak," katanya.

    Selain Kementerian Perindustrian, Syahrul mengajak PT Mondelez Indonesia Manufacturing untuk berpartisipasi dalam penanaman 1 juta bibit tersebut. Adapun, pertemuan tersebut akan mendiskusikan off-taker dan lokasi penanaman 1 juta bibit kakao tersebut.

    Di samping itu, dia menargetkan program tersebut dapat terlaksana paling lambat awal 2021. "Kita punya 3 bulan untuk merencanakan ini dan saya siap."

    Jika 1 hektare kebun kakao bisa ditanami 600-700 pohon kakao, akan ada sekitar 1.500 hektare kebun kakao baru dengan program tersebut. Namun, hanya akan ada sekitar 1.230 ton kakao baru jika produktivitas kebun kakao masih di kisaran 0,8 ton per hektar seperti saat ini.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.