Beri Bantuan Modal, Jokowi Ingin Pedagang Kecil Naik Kelas

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo melakukan sambungan video call dengan salah satu dokter spesialis paru, Faisal Rizal Matondang, yang ikut turun langsung menangani pasien Covid-19 di RSPI Sulianti Saroso. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo melakukan sambungan video call dengan salah satu dokter spesialis paru, Faisal Rizal Matondang, yang ikut turun langsung menangani pasien Covid-19 di RSPI Sulianti Saroso. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi berharap bantuan pemerintah dapat menjadi modal bagi pelaku usaha mikro dan kecil di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur untuk naik kelas. Dia mengingatkan bantuan modal kerja jangan digunakan untuk belanja yang bersifat konsumtif. 

    “Kapan-kapan saya bisa mampir ke tempat Bapak Ibu sekalian untuk melihat, oh usahanya sudah berkembang lebih baik. Itu yang kita inginkan dari mikro bisa menjadi kecil dan yang kecil bisa jadi menengah itu yang kita harapkan,” kata Presiden seperti disiarkan akun Youtube Sekretariat Presiden, Kamis 1 Oktober 2020.

    Hal tersebut Jokowi sampaikan saat memberikan bantuan modal kerja sebesar Rp2,4 juta kepada para pelaku usaha mikro dan kecil di Labuan Bajo. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari bantuan pemerintah untuk menekan dampak sosial dan ekonomi pandemi Covid-19. 

    Pada kesempatan tersebut, Jokowi mengingatkan para pelaku usaha mikro dan kecil di Labuan Bajo yang mengandalkan sektor pariwisata tidak putus semangat. Seperti diketahui, industri pariwisata merasakan dampak terbesar dari pandemi Covid-19. 

    Jokowi juga mengatakan para pelaku usaha mikro dan kecil tidak sendirian merasakan kesulitan ekonomi. Pengusaha berskala menengah hingga internasional pun dalam kondisi serupa. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.