PT Bukit Asam Incar Pasar Batu Bara Baru, Mulai dari Kamboja hingga Sri Lanka

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019. Menurut laporan kinerja perseroan, laba perusahaan pada triwulan III turun menjadi Rp 3,1 triliun atau sebesar 21,7 persen dari sebelumnya Rp 3,9 triliun secara year on year/yoy atau tahunan. TEMPO/Tony Hartawan

    Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019. Menurut laporan kinerja perseroan, laba perusahaan pada triwulan III turun menjadi Rp 3,1 triliun atau sebesar 21,7 persen dari sebelumnya Rp 3,9 triliun secara year on year/yoy atau tahunan. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendapatan perusahaan tambang batu bara, PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA, tergerus akibat pandemi Covid-19 karena adanya penurunan permintaan pasar hingga anjloknya harga komoditas. Untuk menjaga stabilitas keuangan hingga akhir tahun 2020 ini, Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan perusahaan telah memiliki sejumlah strategi.

    Salah satu upaya yang dilakukan entitas adalah mencari ceruk pasar baru di negara non-tradisional. “Dari sisi marketing, kami cari market baru non-tradisional seperti Kamboja, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka yang masih mempunyai PLTU dan kebutuhan terhadap batu bara,” ujar Arviyan saat konferensi pers virtual, Rabu, 30 September 2020.

    Laba bersih PTBA pada semester I 2020 turun sebesar 35,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Per Juni 2020, PTBA  mengantongi laba senilai Rp 1,3 triliun selama semester I 2020. Sedangkan pada paruh pertama 2019 mencapai Rp 2,08 triliun.

    Penurunan laba didorong oleh merosotnya harga komoditas yang mencapai 20 persen. Bila Januari lalu posisi komoditas batu bara masih berada di kisaran US$ 66 per ton, pada Juni harga tersebut turun menjadi US$ 52 per ton.

    Di samping mencari pasar potensial, Arviyan menjelaskan, perusahaan telah melakukan pelbagai efisiensi dari sisi operasional untuk menekan beban. Biaya-biaya yang dianggap tidak berpengaruh terhadap produksi pun dipangkas. PTBA menurunkan biaya operasional beban pokok penjualannya dari Rp 6,8 triliun menjadi Rp 6,4 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H