Pengusaha: Resesi Tak Bisa Dihindari, Asal Jangan Krisis Ekonomi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga melintas di samping Pabrik Teh Hitam Kebun Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Meski sudah berumur 126 tahun, pabrik itu masih kokoh dan menjadi sumber penghidupan warga sekitar yang menjadi buruh secara turun-temurun.  Brebes, Jawa Tengah, 22 April 2015. TEMPO/DINDA LEO LISTY

    Seorang warga melintas di samping Pabrik Teh Hitam Kebun Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Meski sudah berumur 126 tahun, pabrik itu masih kokoh dan menjadi sumber penghidupan warga sekitar yang menjadi buruh secara turun-temurun. Brebes, Jawa Tengah, 22 April 2015. TEMPO/DINDA LEO LISTY

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo menilai Indonesia tak mungkin bisa menghindari resesi. Pada kuartal I/2020 sebenarnya pertumbuhan ekonomi sudah minus dibandingkan triwulan IV/2019.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II/2020 juga mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen. “Triwulan III ini juga akan negatif. Tapi ini harus dipertahankan. Kami mendorong agar tidak terjadi krisis ekonomi,” kata Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono pada diskusi virtual, Rabu, 2 September 2020.

    Sutrisno menjelaskan bahwa resesi tidak menjadi masalah besar. Alasannya semua negara mengalaminya. Akan tetapi, dia berharap jangan sampai terjadi krisis ekonomi.

    “Kalau krisis membuat ekonomi anjlok luar biasa. Ini yang harus ditolong untuk jangka pendek,” katanya.

    Upaya terdekat inilah menurut Sutrisno dibutuhkan oleh semua pelaku usaha dari mikro sampai besar. Pemerintah harus bisa membuat mereka bernafas panjang.

    Yang paling utama dilakukan adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Apabila tidak bisa dilakukan, roda ekonomi tidak bisa bergerak.

    Stimulus yang diberikan pemerintah saat ini baginya masih kecil. Sekitar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Padahal banyak negara mengalokasinya sampai 20 persen.

    Yang jadi masalah, selain kecil realisasinya terlambat. Tidak mencapai sepertiga dari total anggaran yang disiapkan. Inilah yang membuat daya beli lambat.

    “Meski begitu, saya optimistis akhir tahun akan ada perbaikan. Kan anggaran harus dihabiskan. Tapi karena terburu-buru bisa jadi tidak akan efektif dan tidak tepat sasaran. Saya harap proses realisasi anggaran disegerakan dilakukan,” ucap Sutrisno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Harian Covid-19, Hampir Tiap Bulan Rekor

    Pada 29 November 2020, Kasus Harian Covid-19 sebanyak 6.267 merupakan rekor baru dalam penambahan harian kasus akibat virus corona di Indonesia.