Mampu Tekan Emisi Gas Rumah Kaca, RI Dapat Dana Rp 1,52 Triliun

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Api berkobar dari kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu, 28 Juli 2019. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kebakaran hutan dan lahan hingga Juli 2019 luasnya lebih dari 27 ribu hektare, dan kini masih terus meluas di Kabupaten Pelalawan dan Siak. ANTARA

    Api berkobar dari kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu, 28 Juli 2019. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kebakaran hutan dan lahan hingga Juli 2019 luasnya lebih dari 27 ribu hektare, dan kini masih terus meluas di Kabupaten Pelalawan dan Siak. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia menerima kucuran dana sebesar $US 103,78 juta atau sekitar Rp 1,52 triliun (asumsi kurs Rp 14.665 per dolar AS) karena dianggap berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan.

    Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, menyatakan, atas keberhasilan itu Indonesia mendapat pengakuan dunia. "Pengakuan itu berupa persetujuan dari GCF (Global Climate Fund) untuk mengucurkan dana senilai US$ 103,78 juta untuk pembayaran kinerja, atau disebut sebagai skema result based payment," katanya, melalui konferensi virtual, Kamis, 27 Agustus 2020.

    GCF atau dana iklim global tersebut didapat dari program Reduction Emision from Deforestation, and Degradation atau REDD+, yaitu kegiatan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.

    Menurut Siti Nurbaya, ini menjadi bukti komitmen Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim. Sementara pembayaran REDD+ adalah pembayaran berbasis keberhasilan hasil kerja atas penurunan emisi.

    Laporan penurunan emisi diverifikasi tim teknis independen yang ditunjuk sekretariat United Nations Framework Convention on Climate Change atau UNFCCC. "Jadi ini bukan klaim Indonesia sepihak," ucap Siti Nurbaya. Penilaian itu disebut merupakan pengakuan berdasarkan kebenaran data dan konsistensi metodologi yang diverifikasi tim teknis atas penunjukan UNFCCC.

    Hal itu menandakan Indonesia sepaham dengan Paris Agreement dalam pengendalian iklim. "Sebetulnya, kita bisa lihat koherensi kepentingan Indonesia dengan concern dunia," tutur Siti Nurbaya. Sementara REDD+ atau pengurangan emisi, deforestasi, dan degradasi yang ditambah tanda plus (+) itu berkaitan dengan gambut, masyarakat adat, dan lainnya, yang dimulai sejak 2007.

    IHSAN RELIUBUN | RR ARIYANI

    Baca juga: Jokowi: Emisi Gas Rumah Kaca Harus Turun 26 Persen di 2020


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.