Luhut: Pengolahan Sampah Ciptakan Lapangan Kerja Baru

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Melansir situs KPK pada Rabu 22 Juli 2020, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 1 Mei 2020. Dilihat dari data LHKPN, Luhut memiliki harta kekayaaan mencapai Rp 677.4 miliar. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Melansir situs KPK pada Rabu 22 Juli 2020, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 1 Mei 2020. Dilihat dari data LHKPN, Luhut memiliki harta kekayaaan mencapai Rp 677.4 miliar. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan sampah adalah masalah serius bagi Indonesia dan dunia. Dia menyatakan masalah ini sangat kompleks dan harus ditangani secara terintegrasi.

    Oleh karenanya, Luhut melihat ada peluang pada sektor pengolahan sampah karena dapat menciptakan lapangan kerja. "Penerapan Ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah diharapkan dapat membuka lapangan kerja lebih dari 120 ribu lapangan kerja baru dengan industri daur ulang, serta 3,3 juta pekerja informal pendukung," kata Luhut saat sambutan Peluncuran Packaging Recovery Organization (PRO)  secara virtual, Selasa, 25 Agustus 2020.

    Luhut mencontohkan seperti di Lombok, Nusa Tenggara Barat  yang sudah mempraktikkan pengolahan sampah yang baik. Dia menceritakan, sistem pengolahan sampah di sana sudah terintegrasi dari mulai mengumpulkan, memilah, serta menjual yang terpusat pada bank sampah.

    Menurutnya, sistem tersebut sudah menjadi ekonomi sirkular di Lombok. Luhut pun mengatakan, bank sampah di Lombok telah memberikan manfaat kepada sekitar 2.000 kepala keluarga sebagai mata pencarian. "Mereka telah berhasil memilah, mengumpulkan, serta menjual sampah plastik sejumlah 50 ton per tahun," kata Luhut.

    Luhut menegaskan, sistem seperti bank sampah harus dibina sebagai suatu simpul dan pemberdayaan perekonomian masyarakat.  Hal ini tak bisa ditangani oleh pemerintah sendirian, melainkan harus ada campur tangan para pelaku usaha, industri dan masyarakat.

    "Saya betul-betul berharap kepada PREIS (Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment) agar bisa bekerja sama dengan pemerintah supaya kita bisa mengurangi banyak sampah yang bertaburan saat ini," ucap Luhut.

    Adapun PRISE  merupakan organisasi yang diinisiasi oleh sejumlah perusahaan internasional yakni, Coca-Cola Indonesia, Danone Indonesia, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Nestle Indonesia, Tetra Pak, dan PT Unilever Indonesia Tbk.

    Luhut menegaskan, pihaknya akan selalu memberikan dukungan apapun guna menanggulangi masalah sampah bersama-sama.

    Baca: Luhut Klaim RI Bisa Kendalikan Covid-19 hingga Iklan Uang Baru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.