Bos BTN Sebut Permintaan Rumah Bersubsidi Naik 75 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan rumah bersubsidi di kawasan Buni Bakti, Babelan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 8 Juli 2020. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan rumah bersubsidi di kawasan Buni Bakti, Babelan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 8 Juli 2020. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan permintaan rumah bersubdisi sudah mulai naik pada Juni 2020 bila dibandingkan dengan periode sebelumnya hingga 75 persen. Peningkatan juga terjadi pada rumah non-subsidi yang naik kurang lebih 30 persen pada Juni 2020 dibandingkan periode sebelumnya.

    Menurutnya, peningkatan permintaan tersebut menjadi momentum positif bagi sektor perumahan. Apalagi, sektor perumahan merupakan kebutuhan dasar yang sangat berpengaruh dengan aktivitas perekonomian.

    “Dengan kegiatan aktivitas ekonom mulai dibuka, kita berharap kegiatan hari ini bisa menambah kegairahan masyarakat untuk bisa melakukan pembelian rumah,” katanya dalam Acara Pameran Indonesia Property Virtual Expo 2020 - Bank BTN, Sabtu, 22 Agustus 2020.

    Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pelayanan sektor perumahan harus dipercepat sehingga sektor properti bisa semakin bergairah. Pelayanan yang cepat menjadi salah satu upaya melindungi konsumen, selain dengan memberikan relaksasi regulasi.

    “Saya sangat gembira Dirut BTN tadi sampaikan sejak pelayanan sudah semakin baik, berarti kita sudah ubah channel dari rumit ke sederhana dan cepat,” katanya.

    Sementara itu, Sekretaris Kementerian BUMN Susantyo mengatakan Indonesia dihadapkan dengan tentangan pertumbuhan sektor perumahan yang terkontraksi. Selain itu, pertumbuhan harga properti yang melambat dan daya beli masyarakat yang menurun, kian dihadapkan dengan adanya pandemi Covid-19.

    “Kami harapkan pertumbuhan ekonomi akan positif dan akan terus kita pacu dari program PEN [Pemulihan Ekonomi Nasional] dengan meningkatkan kemampuan ekonomi pelaku usaha sektor riil,” katanya.

    Menurutnya, harga rumah melambung tinggi dan sulit terjangkau untuk milineial dan kelas tertentu yang justru menjadi pasar bagi industri properti. Semakin mahalnya harga tanah membuat pola pilih masyarakat cenderung memilih landed house daripada vertical house.

    Susantyo menilai tempat tinggal berkualitas dan terintegarasi fasilitas umum akan mengakselerasi penjualan perumahan. “Daya tarik dari vertical house ini masih harus terus disosialisasikan pada masyarakat kita ini menjadi bagian pekerjaan rumah bagi kita semua. Sinergi dan kerja sama berbagai pihak dalam menyelesaikan tantangan properti perlu ditingkatkan,” katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.