AP II: Penumpang Pesawat untuk Perjalanan Pariwisata Baru 15 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi penumpang pesawat (pixabay.com)

    ilustrasi penumpang pesawat (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Angkasa Pura II (Persero) mencatat pergerakan penumpang pesawat untuk segmen pariwisata baru mencapai 10-15 persen. Data ini dihimpun setelah sejumlah pemerintah daerah mulai membuka gerbang wisata bagi turis domestik, seperti Bali dan Labuan Bajo.

    "Jadi 85-90 persen masih didominasi untuk perjalanan dengan urusan usaha atau dinas," kata President Director Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dalam diskusi virtual, Rabu petang, 12 Agustus 2020.

    Awaluddin mengatakan industri penerbangan saat ini masih berfokus mengkampanyekan perjalanan aman dan nyaman di masa pandemi untuk meningkatkan kembali animo masyarakat. Sebab, kata dia, kepercayaan penumpang merupakan kunci bagi tumbuhnya permintaan atau demand.

    Kampanye tersebut tidak hanya mencakup perjalanan penumpang saat berada di bandara maupun pesawat, tapi juga di destinasi tujuan. Karena itu, Awaluddin menyatakan perlu ada kolaborasi yang kuat antara industri transportasi dan pariwisata serta stakeholder lain yang saling berkaitan.

    Meski perjalanan wisata masih sangat rendah, Awaluddin menyatakan pertumbuhan penumpang di 19 bandara yang dikelola Angkasa Pura II mulai menunjukkan sentimen positif sejak pemerintah melonggarkan PSBB. 

    Berdasarkan catatan perusahaan, pergerakan penumpang pada 1-10 Agustus dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya atau month to month tumbuh 46 persen. Sedangkan slot utilitation bandara telah mencapai 40-42 persen, jauh di atas kondisi pada Mei lalu yang hanya mencapai 20 persen.

    Sementara pada bulan sebelumnya, yakni Juli 2020, Angkasa Pura II mencatat jumlah penumpang yang bergerak di 19 bandara milik perusahaan mencapai 1 juta orang. Angka perputaran uang secara langsung atau direct bagi pembelian tiket, belanja di tenan, hingga akses transportasi darat dari  pergerakan itu mencapai Rp 1,9 triliun.

    Tren pertumbuhan penumpang terjadi sejak Juni, yakni kala pemerintah menerapkan PSBB transisi. "Setelah 7 Juni diakhiri pembatasan pergerakan penumpang, orang mulai bergerak sampai sekarang. Angkanya jauh lebih bagus dibanding Mei yang slot issue-nya berada di titik nadir," ucapnya.

    Awaluddin yakin, hingga akhir tahun nanti, pergerakan penumpang di seluruh bandara milik perusahaannya bisa mencatatkan pergerakan sampai 39 juta penumpang. "Ini best scenario. Kami masih optimistis dengan skenario ini. Kalau bad scenario, pergerakan penumpang hanya 351 ribu orang," tuturnya.

    Direktur Operasi Citilink Erlangga Sakti mengatakan pergerakan penumpang maskapainya mulai menunjukkan geliat positif dalam beberapa waktu ke belakang. Hingga hari, tutur dia, Citilink Indonesia sudah kembali menerbangkan 57 perjalanan per hari.

    Maskapai juga sudah membuka lagi rute-rute yang sebelumnya tidak beroperasi lantaran pandemi. "Kami buka rute kembali ke Surabaya, Banyuwangi, Medan, Gunung Sitolu, Labuan Bajo, Jogja via Halim Perdanakusuma, dan Bandung," ucapnya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA

    Baca lagi: Kata Angkasa Pura II Soal Rencana Holding BUMN Penerbangan dan Pariwisata


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.