Survei KAI: Mayoritas Penumpang Kereta Commuter Line Lulusan SMA

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang saat menunggu kedatangan Kereta Rangkaian Listrik (KRL) Commuterline di peron enam Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu sore, 5 Agustus 2020. Kepadatan penumpang terjadi akibat adanya pembatasan jumlah penumpang yang naik di setiap rangkaiannya. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Penumpang saat menunggu kedatangan Kereta Rangkaian Listrik (KRL) Commuterline di peron enam Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu sore, 5 Agustus 2020. Kepadatan penumpang terjadi akibat adanya pembatasan jumlah penumpang yang naik di setiap rangkaiannya. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Didiek Hartantyo menjelaskan kondisi terakhir mengenai karakteristik pengguna kereta Commuter Line atau KRL Jabodetabek. Penumpang kereta ini berimbang 50 persen, antara perempuan laki-laki.

    "Pekerjaan paling banyak swasta," kata Didiek dalam webinar Transportasi untuk Merajut Keberagaman secara virtual di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2020. Jumlah pengguna yang bekerja di sektor swasta paling banyak, yaitu 65 persen.

    Latar pendidikan paling banyak adalah SMA dengan jumlah 57 persen. Lalu diikuti oleh SD sebanyak 26 persen. Sehingga, kedua kelompok latar belakang pendidikan ini sudah menyumbang 83 persen pengguna KRL.

    Lalu, 69 persen dari pengguna KRL berusia di rentang umur 18 sampau 30 tahun. Rinciannya yaitu paling banyak usia 21 sampai 25 tahun (32 persen), lalu 18 sampai 20 tahun (20 persen), dan 26 sampai 30 tahun (17 persen).

    Sementara itu, 73 persen pengguna KRL memiliki pengeluaran di rentang Rp 2 sampai 5 juta per bulan. Rinciannya yaitu kelompok terbanyak dengan pengeluaran bulanan Rp 2 sampai 3 juta, sebanyak 26 persen.

    Lalu kelompok dengan pengeluaran Rp 4 sampai 5 juta, sebanyak 24 persen. Kemudian, kelompok dengan pengeluaran Rp 3 sampai 4 juta per bulan, dengan jumlah 23 persen.

    Terakhir, mayoritas dari pengguna KRL Jabodetabek menggunakan moda ini sebanyak 4 sampai 6 kali per hari, dengan persentase 43 persen. Sementara 41 persennya menggunakan sampai lebih dari 8 kali per hari.

    Saat ini Jumlah penumpang kereta api commuter line sudah kembali padat. Sehingga sulit menjaga jarak fisik di dalam gerbong kereta. 

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan jumlah penumpang Kerela Commuter Line atau KRL Jabodetabek mencapai 1 juta penumpang per harinya di waktu normal. Di masa pandemi ini, pembatasan jumlah penumpang pun dilakukan sebagai bagian dari protokol kesehatan pandemi Covid-19.

    "Tapi kami kawal dengan baik, insyaallah tidak ada masalah berarti," kata Budi Karya dalam webinar di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2020.

    Operator, PT Kereta Commuter Indonesia juga telah mengumumkan aturan pembatasan jumlah penumpang 35-40 persen atau sekitar 74 orang per kereta untuk menjaga jarak aman antar pengguna KRL.

    Tapi di lapangan, antrean penumpang tetap terjadi di stasiun-stasiun KRL. Kondisi ini dirasakan oleh salah seorang penumpang bernama, Muhammad Sukardi misalnya, karyawan swasta asal Tangerang Selatan yang bekerja di Kebon Sirih, Jakarta Pusat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.